Beranda
Seputar Publik / Berita

Wamendagri Bima: Tantangan Iklim Kini Ada di Eksekusi Daerah

Implementasi kebijakan, integrasi data, dan tata kelola dinilai jadi kunci keberhasilan pembangunan inklusif dan berkelanjutan
Wamendagri Bima Arya Sugiarto saat menyampaikan keynote speech, menegaskan pentingnya eksekusi kebijakan dan tata kelola daerah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim Wamendagri Bima Arya Sugiarto saat menyampaikan keynote speech, menegaskan pentingnya eksekusi kebijakan dan tata kelola daerah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim

Seputarpublik.com, JAKARTA — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa tantangan utama dalam menghadapi perubahan iklim dan mendorong pembangunan inklusif tidak lagi berada pada aspek regulasi, melainkan pada implementasi di tingkat daerah.

Hal tersebut disampaikannya saat menyampaikan keynote speech dalam Dialog Kebijakan Nasional dan Lokakarya Social Inclusion and Resilience in Asia (SIRA) di Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Menurut Bima, Indonesia telah memiliki kerangka kebijakan, regulasi, serta komitmen internasional yang kuat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan target net zero emission. Namun, berbagai instrumen tersebut belum sepenuhnya efektif diimplementasikan hingga level daerah.

“Eksekusi menjadi tantangan utama kita, dan pemerintah daerah adalah kuncinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meskipun indikator pembangunan menunjukkan tren positif, masih terdapat kesenjangan antara data dan kondisi di lapangan. Permasalahan tersebut antara lain disebabkan oleh lemahnya integrasi data, koordinasi lintas sektor, serta belum optimalnya perhatian terhadap kelompok rentan.

“Sering kali urgensi hanya berhenti pada tataran pelatihan, dokumen, atau formalitas dalam anggaran,” tambahnya.

Bima juga menekankan pentingnya menjadikan perspektif gender, inklusivitas, dan disabilitas sebagai bagian integral dalam perumusan kebijakan, bukan sekadar program tambahan.

“Ini tentang siapa yang mendapatkan akses, siapa yang terlibat, dan siapa yang menikmati manfaat pembangunan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Bima menyoroti sejumlah praktik baik di berbagai daerah yang dinilai berhasil mengembangkan pendekatan inovatif. Yogyakarta disebut memiliki integrasi perencanaan dan penguatan kelembagaan yang baik, sementara Semarang dan Makassar mengedepankan pendekatan berbasis komunitas. Adapun Surabaya dinilai berhasil membangun layanan sosial yang terintegrasi.

Menurutnya, setiap daerah memiliki keunggulan masing-masing yang dapat menjadi inspirasi dan direplikasi oleh daerah lain.

“Yang penting bukan hanya programnya, tetapi sistem yang dibangun,” tegasnya.

Bima berharap pemerintah daerah terus memperkuat kapasitas kelembagaan, integrasi data, kolaborasi lintas sektor, serta partisipasi masyarakat guna mewujudkan pembangunan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim global.(Red)*