Seputarpublik.com, JAKARTA — Di tengah fokus pemerintah dalam memperkuat ketahanan pasokan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) untuk kebutuhan dalam negeri, Subholding PTPN III (Persero) melalui PTPN IV PalmCo memastikan produknya tetap memenuhi standar keberlanjutan global. Hampir seluruh produksi CPO perusahaan diserap pasar domestik, namun komitmen terhadap sertifikasi internasional dan nasional terus dikejar hingga mendekati 100 persen.
Berdasarkan data operasional perusahaan hingga 2025, tren kepatuhan terhadap standar keberlanjutan menunjukkan peningkatan signifikan, baik untuk standar sukarela global Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) maupun standar mandatori nasional Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Untuk sertifikasi RSPO, sebanyak 67 dari total 71 Pabrik Kelapa Sawit (94,36 persen) telah tersertifikasi. Sementara di sektor hulu, 124 dari 149 kebun (83,22 persen) juga telah mengantongi sertifikat serupa.
Adapun capaian terhadap standar ISPO tercatat lebih tinggi, yakni 68 dari 71 pabrik (95,77 persen) serta 136 dari 149 kebun (91,27 persen) telah memenuhi standar keberlanjutan nasional tersebut.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan, fokus perusahaan saat ini adalah memastikan keandalan pasokan CPO di pasar domestik. Meski demikian, komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan tata kelola yang baik tetap menjadi prioritas utama. Data 2025 menunjukkan sebanyak 2,7 juta ton CPO atau sekitar 99 persen dari total produksi perusahaan diserap oleh produsen dalam negeri.
Ia menambahkan, kualitas operasional dan komitmen keberlanjutan harus tetap berada pada standar tertinggi global. Sertifikasi tidak hanya menjadi label, tetapi juga mencerminkan tata kelola perusahaan yang transparan dan berkelanjutan.
Selain sertifikasi, perusahaan juga memperkuat aspek keterlacakan (traceability) rantai pasok dan uji tuntas (due diligence). Sepanjang 2025, sejumlah pabrik dijadikan percontohan penerapan sistem pelacakan bahan baku terintegrasi dari kebun hingga pabrik.
Beberapa unit yang telah melalui proses verifikasi di antaranya PKS Rambutan, PKS Sei Mangkei, PKS Bah Jambi, dan PKS Pulu Raja. Pada unit-unit tersebut, asal-usul tandan buah segar (TBS) dapat ditelusuri secara presisi, baik dari kebun inti maupun plasma.
Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo menjelaskan bahwa integrasi data kebun dan pabrik menjadi kunci transparansi rantai pasok. Sistem yang diterapkan saat ini mampu melacak sumber TBS secara akurat sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan, terlepas dari tujuan pasar produk.
Langkah ini sekaligus menjawab tuntutan pasar global terhadap jaminan operasional bebas deforestasi, meskipun secara komersial sebagian besar CPO perusahaan beredar di dalam negeri.
Manajemen juga menetapkan target strategis, yakni seluruh kebun dan pabrik harus tersertifikasi penuh RSPO dan ISPO pada 2030. Roadmap serta tenggat waktu telah disusun guna menutup celah sertifikasi pada unit yang tersisa.
Di tengah dinamika industri sawit nasional yang kerap mendapat sorotan terkait isu lingkungan, strategi PTPN IV PalmCo menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara mandat penyediaan pasokan domestik dan pemenuhan standar keberlanjutan nasional maupun global.
Bagi perusahaan, sertifikasi bukan sekadar prasyarat ekspor, melainkan fondasi tata kelola serta penegasan bahwa produk yang beredar di pasar domestik diproduksi dengan standar ketat setara rantai pasok internasional. Dengan capaian yang telah mendekati 100 persen, tantangan berikutnya adalah memastikan konsistensi implementasi praktik berkelanjutan di lapangan, dari kebun hingga ke tangan konsumen. {red}*