Seputarpublik.com || JAKARTA BARAT – Penggunaan internet yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari membuat keluarga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman di ruang digital. Ibu dan anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian, mengingat risiko penipuan daring, pencurian data, hingga paparan konten berbahaya dapat terjadi di lingkungan digital.
Hal tersebut menjadi perhatian Suku Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Sudis Kominfotik) Jakarta Barat melalui kegiatan Sosialisasi Security Awareness Jakarta Barat bertema “Keluarga Aman Digital: Melindungi Ibu dan Anak dari Ancaman Siber”, yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Kota Jakarta Barat, Kamis (20/8/2026).
Kepala Seksi Aplikasi Siber dan Statistik (Astik) Sudis Kominfotik Jakarta Barat, Nur Izzuddin, mengatakan perkembangan teknologi telah memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat sejumlah risiko keamanan siber yang perlu diantisipasi, terutama dalam lingkungan keluarga.
“Penggunaan teknologi dan internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam keluarga. Di balik kemudahan tersebut, terdapat berbagai ancaman siber yang dapat menyasar siapa saja, termasuk ibu dan anak,” ujar Nur saat dikonfirmasi di Kantor Wali Kota Jakarta Barat.
Menurutnya, kesadaran mengenai keamanan siber perlu terus ditingkatkan agar masyarakat mampu melindungi data pribadi, identitas digital, serta anggota keluarga dari berbagai bentuk ancaman dan kejahatan di internet.
Jangan Sembarangan Membagikan Data Pribadi
Hal senada disampaikan Sandiman Ahli Madya Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Muhammad Ismu Hadi. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih selektif ketika membagikan informasi pribadi di internet.
Hadi menegaskan, data pribadi memiliki nilai sehingga masyarakat perlu memastikan tujuan serta pihak yang meminta data sebelum memberikan informasi tersebut.
“Kalau tidak resmi, jangan dibagikan data pribadi. Data kita bernilai, jadi jangan sampai dimanfaatkan,” kata Hadi.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak sembarangan membuka tautan maupun konten yang berasal dari sumber tidak jelas. Pesan, tautan, atau informasi mencurigakan yang tidak diperlukan sebaiknya dihapus untuk mengurangi risiko terjadinya kejahatan siber.
Selain itu, masyarakat diminta tidak memberikan akun maupun kata sandi kepada orang lain.
“Jangan sembarangan memberikan akun dan password. Karena kalau sudah menyerahkan itu, identitas kita menjadi terancam,” tegasnya.
Orang Tua Diminta Dampingi Anak Saat Berinternet
Menurut Hadi, ancaman di ruang digital tidak hanya berkaitan dengan pencurian data. Anak-anak yang aktif menggunakan internet juga menghadapi berbagai risiko, antara lain cyberbullying, penipuan daring, hingga paparan konten berbahaya dan kekerasan.
Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak ketika menggunakan perangkat digital dan mengakses internet.
“Anak yang sudah mengakses internet harus mendapat perhatian orang tua. Jangan sampai mereka menjadi korban perundungan, penipuan online, maupun terpapar konten berbahaya,” ujarnya.
Menurut Hadi, pengawasan bukan berarti melarang anak menggunakan internet sepenuhnya. Orang tua perlu memberikan pendampingan sekaligus menerapkan batasan penggunaan internet secara bijak.
Pendampingan tersebut juga diperlukan agar anak tidak mudah meniru perilaku atau mengikuti konten negatif yang ditemuinya melalui media sosial maupun platform digital lainnya.
Warga Diminta Tidak Mudah Percaya Informasi di Media Sosial
Hadi turut mengingatkan masyarakat Jakarta Barat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa dan diverifikasi terlebih dahulu melalui sumber yang terpercaya.
Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko masyarakat menjadi korban disinformasi maupun berbagai modus kejahatan digital.
Ia berharap edukasi keamanan siber yang dilakukan secara berkelanjutan dapat memperkuat kemampuan keluarga dalam mengenali, mencegah, dan menghadapi berbagai ancaman di ruang digital.
“Yang penting kita selalu waspada, jangan mudah terpengaruh, dan selalu mengecek apakah sumber informasi tersebut terpercaya atau tidak,” pungkas Hadi.(*/hel)