Dalam sambutannya, Mahfudz Abdurrahman menegaskan bahwa KPSTI mengembangkan pencak silat melalui empat aspek utama, yakni bela diri, olahraga, seni budaya, serta pembentukan karakter mental dan spiritual.
“Fokus kami adalah menjaga pencak silat tetap lestari sekaligus mendorongnya sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional,” ujar Mahfudz.
Sementara itu, Supriyanto, yang telah 47 tahun mengajar tentang Indonesia di Belanda, menyampaikan bahwa pencak silat memiliki daya tarik besar di kalangan masyarakat Belanda, terutama pada aspek mental dan spiritual.
Ketua Harian KPSTI Nurali menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara agar pencak silat tradisi tetap hidup, adaptif, dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Pada kesempatan yang sama, Bradley Jacobs menilai KPSTI memiliki peran strategis dalam pengembangan pencak silat di Belanda. Terlebih, pencak silat telah diakui sebagai warisan budaya takbenda di negara tersebut.
KPSTI berharap kerja sama Indonesia–Belanda di bidang pencak silat tradisi dapat terus diperkuat, sekaligus menjadikan pencak silat sebagai jembatan persahabatan dan pemahaman lintas budaya. [*/Hel ]
Komentar