Beranda
Seputar Publik / Berita

BRIN dan PalmCo Kembangkan Bio-CBG dari Limbah Sawit, Siap Jadi Pengganti LPG Impor

Limbah kelapa sawit disiapkan menjadi “kembaran hijau” gas alam melalui pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG) untuk mendukung ketahanan energi nasional dan menekan impor LPG.
Direktur Utama PTPN IV Palmco Jatmiko K Santosa: Direktur Utama PTPN IV Palmco Jatmiko K Santosa: "BRIN dan PalmCo siapkan Bio-CBG dari limbah sawit sebagai energi hijau pengganti LPG impor.

Seputarpublik.com || JAKARTA — Upaya mencari sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil impor kini mulai mengarah ke sektor perkebunan sawit. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, tengah mematangkan kajian pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG), yakni gas biomethana berbasis limbah sawit yang kualitasnya diklaim setara dengan compressed natural gas (CNG) atau gas alam terkompresi.

Energi hasil pengolahan limbah kelapa sawit tersebut diproyeksikan menjadi substitusi LPG impor sekaligus memperkuat bauran energi baru terbarukan nasional.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pengembangan Bio-CBG merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengoptimalkan limbah sawit menjadi sumber energi bernilai tambah tinggi.


“Selama ini limbah sawit identik dengan persoalan lingkungan. Sekarang pendekatannya berubah. Limbah justru bisa menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Jatmiko di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, proyek bersama BRIN difokuskan pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) dan biomassa tandan kosong menjadi biomethana berkadar tinggi. Gas tersebut kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.

“Bio-CBG ini pada dasarnya merupakan ‘kembaran hijau’ dari CNG. Fungsinya sama dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lainnya,” jelasnya.

Langkah tersebut dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tengah menekan ketergantungan terhadap impor energi. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa pemanfaatan gas domestik menjadi salah satu strategi utama untuk mengurangi beban impor LPG nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pengembangan energi berbasis gas dalam negeri memiliki daya saing tinggi karena didukung sumber daya dan infrastruktur industri yang tersedia di Indonesia.

“Gasnya ada di kita, industrinya juga ada di dalam negeri. Karena itu pengembangannya perlu terus diperluas,” ujarnya.

PalmCo Targetkan 17 Instalasi Bio-CBG

PalmCo saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan energi hijau berbasis sawit. Salah satu proyek yang sedang berjalan adalah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tinjowan, Sumatera Utara.

Bersama mitra strategis, perusahaan menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029. Pada tahun ini, PalmCo juga merencanakan groundbreaking atau peletakan batu pertama untuk delapan proyek baru.

“Harapannya, fasilitas pengolahan limbah sawit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga gas siap pakai yang dapat dimanfaatkan sektor industri maupun transportasi,” kata Jatmiko.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, pengembangan biomethana dinilai menjadi peluang besar bagi industri sawit. Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia menghasilkan limbah cair dan biomassa dalam jumlah besar setiap tahunnya.

Dalam proses alami, limbah cair sawit melepaskan gas metana yang memiliki dampak emisi lebih besar dibanding karbon dioksida. Karena itu, penangkapan gas metana untuk diolah menjadi energi dipandang mampu menekan emisi sekaligus menciptakan sumber energi alternatif yang lebih bersih.

BRIN Audit Teknologi Pengolahan Limbah Sawit di Riau

Dari sisi teknologi, BRIN melakukan audit energi dan evaluasi teknis di sejumlah fasilitas PalmCo, termasuk di Pabrik Kelapa Sawit dan Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Sei Pagar, Riau.

Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Putra, mengatakan sektor sawit memiliki potensi besar dalam mendukung agenda transisi energi nasional apabila limbahnya dimanfaatkan secara optimal.

“Energi menjadi prioritas nasional. Kajian ini bukan hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Hens, pengembangan Bio-CBG berbasis sawit juga sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon karena mampu menekan emisi metana sekaligus menghasilkan produk turunan bernilai tambah.

BRIN juga melihat peluang pengembangan kawasan inovasi berbasis industri sawit atau technopark yang mengintegrasikan riset, pengolahan limbah, dan pengembangan energi baru terbarukan.

“Kami berharap model ini dapat direplikasi secara nasional dan menjadi contoh pengembangan energi berbasis sawit di Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Peneliti Energi BRIN Samuel Pati Senda menjelaskan hasil audit lapangan di fasilitas PTBg co-firing Sei Pagar menunjukkan peningkatan efisiensi produksi gas metana yang signifikan.

Produksi metana tercatat meningkat dari rata-rata 36.706 normal meter kubik (Nm³) per bulan pada 2025 menjadi sekitar 46.683 Nm³ per bulan pada periode pengujian tahun 2026.

“Data ini menunjukkan teknologi pengolahan limbah sawit untuk energi sudah cukup matang dan layak direplikasi dalam skala lebih besar,” ujarnya.

Menurut Samuel, pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CBG tidak hanya terkait penyediaan energi alternatif, tetapi juga merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular di industri perkebunan.

“Limbah yang sebelumnya menjadi sumber emisi kini dapat diubah menjadi energi bersih. Jadi ada manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi,” katanya.

Pengembangan biomethana berbasis sawit juga dinilai mampu memperkuat target pemerintah dalam mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen. Di tengah tantangan transisi energi dan tingginya impor LPG, pengolahan limbah sawit menjadi “kembaran hijau” gas alam mulai dipandang sebagai salah satu solusi strategis dari sektor agroindustri nasional.(Red)*