“Integrasi pengolahan limbah sawit ini sejalan dengan target nasional dalam mencapai Net Zero Emission. Kerja sama antara penyuplai bahan baku, pengembang teknologi dari reNIKOLA, serta offtaker dari Pertagas Niaga membuktikan bahwa transisi energi di sektor sawit dapat dieksekusi secara terukur dan berkelanjutan secara bisnis,” tuturnya.
CBG Disalurkan melalui Jaringan Gas
Dari sisi tata niaga dan distribusi, PTGN akan bertindak sebagai offtaker atau penyerap CBG yang diproduksi PT RPE dengan masa kontrak selama 15 tahun.
Gas substitusi tersebut nantinya akan disalurkan kepada konsumen industri melalui jaringan distribusi gas bumi yang telah beroperasi.
Untuk mendukung distribusi dalam skala besar, Pertagas merencanakan pengembangan stasiun injeksi biometana di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk menghubungkan pasokan CBG dari pabrik kelapa sawit dan menginjeksikannya langsung ke jaringan distribusi gas nasional.
Chief Operating Officer reNIKOLA, Dr. Amran Yusof atau Bob, menilai skema kerja sama hulu-hilir tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan pasar gas terbarukan di Indonesia.
Komentar