Beranda
Seputar Publik / Berita

Dosen UHAMKA Nurlina Rahman Latih Public Speaking 72 Siswa SMKN 8 Jakarta, Bangun Kepercayaan Diri dan Personal Branding

Workshop diikuti 72 siswa kelas X dan XI jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), dengan materi personal branding, retorika, kepercayaan diri, teknik vokal, hingga praktik berbicara di depan publik.
Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., saat memberikan materi public speaking dan personal branding kepada siswa SMK Negeri 8 Jakarta dalam workshop pengembangan kompetensi komunikasi. Foto: Dokumentasi/Dr. Nurlina Rahman Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., saat memberikan materi public speaking dan personal branding kepada siswa SMK Negeri 8 Jakarta dalam workshop pengembangan kompetensi komunikasi. Foto: Dokumentasi/Dr. Nurlina Rahman

Seputarpublik.com || JAKARTA — Kemampuan berbicara di depan publik tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kemampuan memahami audiens, mengelola pesan, membangun kepercayaan diri, dan menunjukkan karakter yang positif.

Hal tersebut menjadi fokus workshop “Strategi Pengembangan Kompetensi Personal Branding dalam Retorika Public Speaking” yang digelar di SMK Negeri 8 Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan menghadirkan Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., dosen, praktisi public speaking sekaligus pewara atau MC profesional, sebagai narasumber. Workshop diikuti sebanyak 72 siswa kelas X dan XI jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).

Kegiatan dirancang untuk membantu siswa mengenali potensi diri, membangun personal branding, meningkatkan kepercayaan diri, serta mengembangkan kemampuan komunikasi yang dapat menjadi bekal dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja.

Nurlina juga aktif sebagai Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM DKI Jakarta serta Wakil Ketua Afiliasi Pengajar, Peneliti, Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni, dan Desain (APEBSKID) Komisariat DKI Jakarta periode 2024–2028.

Kepala SMKN 8 Jakarta: Sekolah Harus Jadi Ruang Pengembangan Diri

Kegiatan diawali dengan pengantar dari Novianto, S.TP., guru Informatika, dan dihadiri Hasan Bakri Usman Lamatungga, S.T., selaku Ketua Program Keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) SMK Negeri 8 Jakarta.

Kepala SMK Negeri 8 Jakarta, Siti Rustini, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi, pengalaman, dan kemampuan diri.

Menurutnya, kegiatan seperti workshop public speaking dapat memberikan pengalaman baru sekaligus membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi berbagai situasi di masa mendatang.

Kemampuan komunikasi, kata Siti, menjadi salah satu keterampilan penting yang dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan. Melalui komunikasi yang baik, siswa dapat menyampaikan gagasan, membangun relasi, berinteraksi, serta memperoleh wawasan dari orang lain.

Ia berharap materi yang diberikan dalam workshop dapat menjadi bekal bagi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri.

Sementara itu, Hasan Bakri Usman Lamatungga menilai kemampuan komunikasi perlu berjalan beriringan dengan keterampilan teknis yang dimiliki siswa RPL.

Menurutnya, siswa RPL banyak berkegiatan di balik layar karena fokus pada teknologi dan perangkat lunak. Namun, kemampuan teknis tersebut tetap perlu dilengkapi keterampilan komunikasi agar siswa mampu menyampaikan gagasan dan berinteraksi secara efektif.

Nurlina: Public Speaking Bukan Sekadar Berani Bicara

Memasuki sesi utama, Nurlina mengajak siswa memahami terlebih dahulu pentingnya kemampuan mendengarkan dalam membangun komunikasi yang efektif.

“Salah satu kunci sukses komunikasi adalah banyak mendengarkan, mendengarkan bukan hanya dengan telinga tapi juga dengan hati dan pikiran,” ujar Nurlina.

Menurutnya, mendengarkan merupakan bagian penting dalam proses komunikasi karena membantu seseorang menganalisis, memahami, dan memaknai pesan yang disampaikan orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal.

“Tidak mudah mendengarkan, tapi ini bagian kita untuk bisa berlatih menganalisis, memahami dan mengartikan,” lanjutnya.

Nurlina kemudian menjelaskan konsep personal branding sebagai bagian dari proses mengenali dan mengembangkan citra diri, termasuk bagaimana seseorang menunjukkan karakter, nilai, pengalaman, serta kekhasan dirinya di hadapan publik.

Ia menjelaskan bahwa personal branding dapat memberikan sejumlah manfaat, antara lain meningkatkan kepercayaan, memperluas relasi, serta membuka peluang pendidikan maupun pekerjaan.

Menurut Nurlina, seseorang akan lebih mudah memperoleh kepercayaan ketika memiliki kemampuan dan rekam jejak yang jelas.

Bangun Konsep Diri Positif

Dalam materi pengembangan kepercayaan diri, Nurlina mengajak siswa mengenali kelebihan dan keterbatasan masing-masing.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan diri dapat dilakukan melalui sejumlah langkah, antara lain mengubah pola pikir yang merusak, menggali potensi diri, serta menyusun rencana masa depan.

Konsep diri yang positif, menurutnya, dapat tercermin melalui kemampuan bersosialisasi, kejujuran, keterbukaan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, kreativitas, kemampuan membangun relasi, serta sikap tidak mudah menyerah.

Nurlina menekankan bahwa personal branding dan pengembangan diri memiliki hubungan erat dengan profesionalisme.

Di era digital, kemampuan membangun reputasi dan karier perlu diimbangi dengan keterampilan komunikasi yang baik. Public speaking, kata dia, dapat diterapkan dalam berbagai profesi dan bidang pekerjaan.

Retorika dan Public Speaking Perlu Terus Dilatih

Dalam sesi mengenai retorika, Nurlina menjelaskan bahwa public speaking merupakan salah satu keterampilan komunikasi yang penting dikuasai, khususnya ketika seseorang harus menyampaikan ide atau pesan kepada khalayak.

Retorika sendiri dapat diterapkan dalam berbagai bentuk komunikasi, mulai dari pidato, presentasi, sambutan, kampanye, ceramah, dakwah, orasi, debat publik, sosialisasi, hingga menjadi pewara atau master of ceremony (MC).

Nurlina juga menggali pengalaman siswa dalam berbicara di depan umum. Sejumlah peserta ternyata telah memiliki pengalaman menjadi pembawa doa, pembawa acara, hingga pembaca Undang-Undang Dasar 1945 dalam kegiatan upacara.

Menurutnya, kemampuan public speaking bukan hanya persoalan keberanian tampil, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menyampaikan pesan secara terstruktur dan menarik.

“Public speaking yang baik adalah bagaimana kita membawakan acara dengan baik di hadapan orang-orang banyak,” tuturnya.

Mengenal Glossophobia

Peserta juga diperkenalkan dengan istilah glossophobia, yakni rasa takut atau kecemasan ketika harus berbicara di depan banyak orang.

Nurlina menjelaskan bahwa kemampuan tersebut tidak dapat diperoleh secara instan. Keberanian berbicara perlu dibangun melalui latihan yang dilakukan secara konsisten.

Ia mendorong siswa untuk membiasakan diri berbicara dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, memberikan ide, maupun berinteraksi dalam sebuah forum.

Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengenali kemampuan yang dimilikinya.

Kuasai Materi dan Pahami Audiens

Dalam penyampaian materi, Nurlina juga mengutip pemikiran Kenneth Burke mengenai komunikasi sebagai sebuah drama. Dalam konteks public speaking, seorang pembicara perlu mampu membangun suasana dan menarik perhatian audiens agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Menurut Nurlina, mempertahankan perhatian audiens merupakan salah satu tantangan dalam public speaking.

Karena itu, seorang pembicara perlu menguasai materi, menghargai audiens, serta mampu mengendalikan suasana ketika menyampaikan pesan.

“Mempertahankan audiens adalah hal yang sulit, jadi menghargai itu adalah cara yang paling sederhana,” jelasnya.

Setelah mendapatkan materi, para siswa mengikuti sesi praktik. Latihan dilakukan melalui olah vokal dan pernapasan sebelum peserta mencoba tampil dan berbicara di hadapan orang lain.

Praktik tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenali kekurangan dalam cara berbicara sekaligus melatih keberanian dan kemampuan komunikasi.

Siswa Antusias Ikuti Praktik Public Speaking

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan setelah mengikuti workshop.

Puti Wulandari, salah seorang siswa RPL, mengaku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. Ia menilai materi yang disampaikan Nurlina mudah dipahami serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik.

“Saya juga kagum dengan cara Ibu berbicara yang percaya diri dan bisa membuat suasana menjadi menarik. Pesan saya, semoga Ibu terus menginspirasi banyak orang lewat kemampuan public speaking Ibu,” ujar Puti.

Sementara itu, Raisyaqia Almira Putri Darmawan, siswa kelas XI RPL, mengatakan workshop tersebut memberikan pengalaman baru karena materi tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga dilengkapi praktik.

“Saya merasa sangat senang dan mendapatkan banyak pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan public speaking. Materi yang disampaikan mudah dipahami dan disertai praktik langsung sehingga membuat saya lebih percaya diri saat berbicara di depan umum,” ungkap Raisyaqia.

Hal senada disampaikan Callysta Ramadhani, siswa kelas XI RPL. Ia mengaku sempat merasa gugup ketika harus mempraktikkan kemampuan berbicara di depan peserta lain.

Namun, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa kemampuan public speaking membutuhkan proses dan latihan.

“Dengan saya melihat Kak Lina yang sangat bagus mulai dari penyampaiannya dan cara bicaranya yang sangat percaya diri, saya menjadi tahu dan ternyata menjadi public speaker tidak semudah itu tetapi sangat mudah jika kita mau belajar dan bersungguh-sungguh,” ujar Callysta.

Public Speaking Jadi Pelengkap Kompetensi Siswa RPL

Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya SMK Negeri 8 Jakarta mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sesuai dengan kebutuhan bidang keahlian masing-masing.

Sebelumnya, sekolah juga telah melaksanakan pelatihan public speaking bagi siswa Program Studi Usaha Layanan Wisata (ULW) dengan Dr. Nurlina Rahman sebagai narasumber. 

Bagi siswa RPL, kemampuan komunikasi menjadi pelengkap keterampilan teknis yang selama ini menjadi fokus pembelajaran.

Kemampuan menyampaikan gagasan, melakukan presentasi, membangun relasi, berdiskusi, hingga berkomunikasi dengan klien merupakan kompetensi yang dapat mendukung kesiapan siswa ketika memasuki dunia kerja.

Melalui workshop ini, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai teori public speaking dan personal branding, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berlatih secara langsung.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu siswa mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, mengembangkan personal branding, serta meningkatkan kemampuan komunikasi sebagai bekal melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia profesional.

* Penulis: Adinda Nurmeylia dan Zacky Sobri Zamzamy