Seputarpublik.com || JAKARTA — Transformasi energi dan perkembangan teknologi digital di Indonesia memasuki fase yang semakin kompleks. Tantangan industri kini bukan lagi sekadar menambah kapasitas, melainkan memastikan berbagai infrastruktur dapat terhubung dan berkembang secara terintegrasi.
Kebutuhan energi yang terus meningkat, ekspansi energi terbarukan, perkembangan teknologi penyimpanan, hingga pesatnya pertumbuhan pusat data akibat kecerdasan buatan (AI) membuat batas antar-sektor industri semakin terbuka.
Kondisi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam IEE Series – Energy Week 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 2–5 September 2026.
Gelaran tersebut mempertemukan pelaku industri energi, teknologi, manufaktur, infrastruktur, hingga sektor digital melalui tiga pameran utama, yakni Electric & Power Indonesia, The Battery Show Indonesia, dan Data Center Asia–Indonesia.
Ketiganya menunjukkan bahwa pembangunan industri masa depan tidak dapat dilakukan secara sektoral. Energi, baterai, kelistrikan, konektivitas, dan infrastruktur digital semakin memiliki keterkaitan yang erat.
AI Mengubah Kebutuhan Data Center

Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan besar pada infrastruktur digital.
Chairman IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan, kehadiran AI dan exponential computing membuat kebutuhan pusat data semakin kompleks. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut kapasitas komputasi, tetapi juga bandwidth, konektivitas hingga sistem pendinginan.
“Dengan munculnya AI dan exponential computing, cara kita membangun data center menjadi sangat berbeda, mulai dari kebutuhan compute, bandwidth, konektivitas, hingga sistem pendinginan yang semakin canggih, dan ini tentu melibatkan kerja berbagai sektor juga untuk mendukungnya,” ujar Hendra dalam forum Future Outlook: Indonesia as a Digital Hub pada Data Center Asia–Indonesia, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, pembangunan ekosistem digital Indonesia membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Pemerintah dan regulator, perusahaan telekomunikasi, perguruan tinggi, hyperscalers, hingga penyedia layanan cloud perlu berada dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“Kita membutuhkan strategi kolaborasi antara berbagai stakeholders: pemerintah dan regulator, perusahaan telekomunikasi, institusi pendidikan, hyperscalers, hingga cloud providers,” katanya.
Indonesia Berpeluang Jadi Hub Digital Regional
Posisi geografis Indonesia juga menjadi modal penting dalam pengembangan konektivitas digital.
Berada di antara sejumlah kawasan ekonomi strategis, Indonesia memiliki peluang memperkuat posisi sebagai hub konektivitas regional. Namun, peluang tersebut membutuhkan infrastruktur yang memiliki tingkat ketahanan tinggi.
Denny Setiawan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai diversifikasi konektivitas menjadi salah satu faktor penting untuk membangun infrastruktur digital yang lebih andal.
Menurut dia, Indonesia tidak dapat bergantung pada satu jalur konektivitas. Infrastruktur harus memiliki alternatif sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan ketika salah satu jalur mengalami gangguan.
“Jadi, kita tidak hanya bergantung pada satu jalur, tetapi harus membangun konektivitas yang lebih resilient. Data Center yang tangguh menjadi fondasi bagi ekonomi digital yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Denny.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur digital tidak bisa dilihat hanya dari kepentingan satu sektor. Infrastruktur tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi nasional yang semakin bergantung pada teknologi digital.
Talenta Digital Jadi Faktor Penentu
Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur digital, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai juga semakin besar.
Hendra mengatakan, Indonesia memiliki modal demografi yang dapat mendukung pertumbuhan ekosistem digital.
“Indonesia adalah negara yang relatif muda, dengan lebih dari 72 persen penduduk berusia di bawah 48 tahun. Ini merupakan modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menyediakan talenta bagi industri digital,” katanya.
Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT) Universitas Indonesia sekaligus Chairman of Stakeholder, Policy & Regulation PJCI, Chairul Hudaya, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan industri.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi bukan hanya kemampuan kampus menghasilkan inovasi, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat diterapkan secara nyata oleh perusahaan.
“Pentingnya transfer teknologi harus ada jembatannya memang. Tidak mungkin dosen yang membawa atau menjajakan nama kampus kepada perusahaan. Harus ada pihak profesional yang menjadi jembatan antara kampus dengan industri,” ujar Chairul.
Kampus Didorong Siapkan Talenta AI dan Keamanan Siber
Kebutuhan talenta juga menjadi perhatian Dewan Pengarah BRIN Marsudi Wahyu Kisworo.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk mengurangi kesenjangan talenta digital, terutama pada bidang yang berkembang pesat seperti keamanan siber, data science, dan kecerdasan buatan.
“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta digital untuk menghadapi tantangan keamanan ke depan. Kita membutuhkan lebih banyak SDM yang memiliki kemampuan di bidang keamanan digital, data science, dan artificial intelligence,” ujar Marsudi.
Karena itu, menurut dia, pengembangan kurikulum dan peningkatan kapasitas akademisi perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Ekosistem Industri Tak Bisa Berdiri Sendiri
Semakin besar skala pembangunan infrastruktur, semakin panjang pula rantai industri yang terlibat.
Penyedia energi, produsen perangkat, perusahaan konstruksi, operator telekomunikasi, penyedia teknologi, investor, hingga pengguna akhir membutuhkan hubungan yang saling mendukung.
Managing Director Pioneer Consulting Asia-Pacific Vital Patel menilai tidak ada satu perusahaan yang dapat membangun ekosistem industri secara sendirian.
“Ekosistem industri ini sangat kompleks. Di industri ini satu perusahaan tak dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran perusahaan lain, dan ekosistem ini semakin kompleks setiap harinya,” kata Vital.
Menurut dia, forum lintas industri seperti Energy Week 2026 dapat menjadi ruang untuk mempertemukan para pelaku usaha sekaligus membuka peluang kemitraan baru.
Energi, Baterai, dan Data Center Saling Terhubung
Keterkaitan antarsektor semakin terlihat ketika pertumbuhan pusat data bertemu dengan agenda transisi energi.
Data center membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dengan tingkat keandalan tinggi. Di sisi lain, meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan mendorong kebutuhan terhadap teknologi penyimpanan energi dan baterai.
Artinya, pengembangan pusat data, sistem kelistrikan, energi terbarukan, dan industri baterai tidak lagi dapat berjalan sendiri-sendiri.
Melalui IEE Series – Energy Week 2026, keterhubungan tersebut coba diperlihatkan dalam satu platform yang mempertemukan berbagai pelaku industri nasional dan internasional.
Chairman IdBattery Niko Chandra mengatakan pembangunan industri juga perlu diiringi penguatan industri dalam negeri, termasuk melalui peningkatan local content tanpa mengurangi daya saing.
“Kita perlu memastikan bahwa peningkatan local content berjalan sejalan dengan kesiapan industri dan pertumbuhan pasar, sehingga industri domestik semakin kuat tanpa kehilangan daya saingnya,” ujar Niko.
Ia menekankan, pembangunan ekosistem baterai juga harus melihat seluruh siklus hidup produk, mulai dari bahan baku, proses produksi dan manufaktur, penggunaan, keterlacakan, pemanfaatan kembali, daur ulang hingga pembuangan akhir.
Dengan demikian, semakin banyak pihak yang perlu terlibat dalam membangun industri baterai yang berkelanjutan.
Energy Week 2026 Jadi Ruang Kolaborasi
Niko berharap IEE Series – Energy Week 2026 tidak berhenti sebagai ajang pameran dan pertemuan bisnis, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mampu menghasilkan gagasan dan rekomendasi bagi pengembangan industri.
“Platform IEE Series - Energy Week 2026 jadi satu event yang tidak hanya menyatukan antarindustri, atau antarpemangku kepentingan, tapi bisa menjadi wadah yang nantinya bisa menghasilkan berbagai policy, rekomendasi, memberi masukan dari para pelaku industri kepada stakeholder lain untuk bersama mempercepat kemajuan industri di sektor ini,” katanya.
IEE Series – Energy Week 2026 masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu platform, gelaran tersebut menegaskan bahwa masa depan industri Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kapasitas yang mampu dibangun, tetapi juga oleh seberapa kuat kolaborasi yang mampu menghubungkan energi, teknologi, sumber daya manusia, manufaktur, dan infrastruktur digital.
Pada akhirnya, integrasi berbagai sektor tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri Indonesia yang berdaulat, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.(*/hel)