Beranda
Seputar Publik / Berita

Maraknya Judol Dan Pinjol Ilegal Jadi Sorotan Dalam Seminar Road To Puncak HPN 2025 Kalsel

Seminar Road To Puncak HPN 2025 Kalsel bertema Peran Media dalam Pencegahan Pinjol dan Judol”, Jum’at (31/1/2025).

Seputar Publik Jakarta Road to HPN menuju puncak acara HPN 9 Februari 2025 di Banjarmasin Kalimantan Selatan, PWI bekerja sama dengan Universitas Sahid menggelar Seminar Nasional bertema “Peran Media dalam Pencegahan Pinjol dan Judol” bertempat di Universitas Sahid Kampus Soepomo, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2025).

Seminar menghadirkan empat narasumber dari Perlindungan Konsumen, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), LKBPH PWI Pusat, dan Dekan Fakultas Hukum dan Dekan Fakultas Fikom Universitas Sahid Jakarta.

Dalam paparannya di seminar tersebut OJK melalui Kepala Departemen Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Rudy Agus Purnomo Raharjo menyatakan pinjaman online ilegal sangat berbahaya bagi masyarakat karena menjerat nasabah dengan bunga yang sangat tinggi.

“Belum lagi seluruh data handphone nasabah pinjol ilegal bisa tersedot dan tersebar ke hal layak. Serta perilaku penagih pinjol ilegal ini tidak beretika,” ujar Rudy.

Karena itu, kata Rudy, dalam memberantas pinjol ilegal OJK telah memberangus 2.900 pinjol ilegal, menutup 228 rekening dan 1.400 WhatsApp. Namun OJK belum bisa memberantas habis pinjol ilegal dengan alasan suplai and demand di masyarakat.

“Sebab satu ditutup yang lain timbul karena ada suplai and demand itu. Faktor ekonomi juga berpengaruh sehingga kenapa pinjol ilegal itu marak,” ucap Rudy.

Rudy menambahkan faktor edukasi masyarakat yang masih rendah juga menjadi faktor pinjol ilegal sulit diberantas. Ia mengeluarkan data tingkat literasi 65 persen tapi inklusi 75 persen. “Tafsirnya masyarakat membeli produk dan layanan tapi tingkat literasi rendah,” ujarnya.

Ketua LKBPH PWI Pusat HM Untung Kurniadi mengatakan masyarakat banyak terjerat pinjol ilegal karena kemudahan persyaratan dan cepat cair. Untung menyebutkan ada yang hanya menunggu satu jam, pinjaman itu sudah bisa cair dengan syarat yang tidak ribet. Korban pinjol terbanyak adalah ibu-ibu dan guru karena banyak tunggangan.

“Bukan hanya itu, wartawan pun banyak yang terjerat pinjol ilegal. Saya sering mendampingi wartawan yang terjerat pinjol ilegal untuk lapor polisi,” ungkap untung.

Dasar yang dipegang, kata Untung, adalah pernyataan Mahfud MD yang menyebutkan hutang pinjol ilegal tak perlu dibayar. Namun lapor ke polisi itu tidak diterima dengan alasan masuk dalam kategori pelanggaran perdata.

“Jadi sebenarnya hutang pinjol itu bisa enggak dibayar kah? Tolong nanti Dekan Hukum Usahid menjelaskan,” pinta Untung.

Dekan Fakultas Hukum Usahid Dr Yuherman SH, MH pun langsung merespon. Ia mengatakan hutang pinjol ilegal itu secara norma tetap harus dibayar. Akan tetapi, tagihan hutang pinjol ilegal itu tidak bisa dibayar melalui pengadilan. Karena itu sama saja dengan hutang judi online yang tidak bisa dibayar melalui pengadilan.

“Pengadilan hanya menyoroti perilaku judi dengan pasal 303, tapi hutang judinya tidak bisa dibawa ke pengadilan,” ujar Dr Yuherman SH, MH.

Sementara itu, Dekan Fikom Universitas Sahid Jakarta Dr Mirza Ronda, M Si menyoroti peran media sangat penting dalam mencegah pinjol ilegal dan judol. Media harus terus mengawal sampai akhir sehingga informasi itu bisa sampai ke masyarakat.

Mirza mencontohkan kesuksesan media dalam mengawal isu pagar laut di Tangerang. Media terus mengikuti dan mengkonfirmasi pihak terkait sehingga semua terbongkar.

“Kalau kasus judi online yang kemarin sudah melibatkan Komdigi itu harusnya terus dikawal sampai persidangan. Sehingga isu itu menjadi top of mind. Itu peran media,” ujar Mirza Ronda.

Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch Bangun mengatakan pinjol ilegal dan judol bukan hanya marak di Indonesia. Masyarakat Singapura, kata Hendry pun banyak yang terjerumus dalam judi online. Korbannya pun sama kebanyakan dari kaum ibu.

“Di Indonesia besar karena kita ini kebanyakan masyarakat pemimpi. Padahal kalau mau banyak uang kerja keras,” ujar Hendry Ch Bangun.

Rektor Universitas Sahid Jakarta, Prof. Dr. Ir Giyatmi dalam sambutannya mengatakan media punya peran penting dan menjadi garda terdepan dalam mencegah pinjol ilegal dan judol di tengah masyarakat.

Dirinya berharap seminar nasional ini bisa berlanjut dengan membuat riset sederhana terkait faktor yang menyebabkan masyarakat terjerat pinjol ilegal dan judol.

“Kami berharap seminar ini dapat menggali peran media dalam pencegahan pinjol ilegaldan judol,” ujar Prof Dr. Ir Giyatmi.

(*/RDN)