Seputarpublik.com || JOMBANG — Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2026-2031. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU, sementara KH Miftachul Akhyar kembali mengemban amanah sebagai Rais Aam.
Keduanya ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Dalam proses tersebut, sembilan anggota AHWA bermusyawarah untuk menentukan calon dari lima nama yang diajukan peserta muktamar.
Kepemimpinan baru PBNU membawa agenda penguatan organisasi agar semakin solid, mandiri, dan kembali berpegang pada khitah NU sebagai jam’iyyah diniyyah islamiyyah sekaligus organisasi kemasyarakatan.
Bagi KH Miftachul Akhyar, salah satu pekerjaan penting NU ke depan adalah memperkuat kemandirian ekonomi warga nahdliyin.
Menurut dia, sektor pendidikan dan kesehatan telah memiliki banyak sumber daya dan pakar yang mendukung. Karena itu, penguatan ekonomi umat menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
“Di bidang pendidikan dan kesehatan, alhamdulillah sudah ada pakarnya. Nah, tinggal ekonomi. Ekonomi untuk umat yang harus betul-betul kita perjuangkan,” ujar KH Miftachul Akhyar.
Sebagai langkah konkret, PBNU akan memperkuat Lembaga Pengembangan Pertanian PBNU (LPP-PBNU). Selain itu, akan dibentuk Kamar Pengusaha Sukses NU sebagai wadah untuk menghimpun sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi warga nahdliyin.
Gus Kikin Fokus Benahi SDM dan Kembali ke Khitah NU
Sementara itu, Gus Kikin menegaskan kepemimpinannya akan diarahkan untuk mengembalikan NU pada khitah organisasi.
Penataan sumber daya manusia (SDM), penegakan Qanun Asasi, serta konsolidasi organisasi menjadi sejumlah prioritas awal kepengurusan PBNU periode 2026-2031.
“Kami prioritaskan menata SDM dulu. Organisasinya kan ganti, semuanya baru. Ini cukup banyak yang harus ditata SDM-nya. Nanti kita tata mungkin paling lama satu bulan. Baru kita gerakkan lagi apa yang harus dikerjakan,” ujar Gus Kikin seusai penutupan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).
Penyusunan kepengurusan baru PBNU pun akan segera dilakukan. Gus Kikin menegaskan, NU tetap membutuhkan panduan organisasi agar tidak terseret ke dalam politik praktis.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu juga memastikan kepemimpinannya akan terbuka dan merangkul seluruh potensi warga nahdliyin, termasuk menjalin kolaborasi dengan para tokoh senior seperti KH Ma’ruf Amin.
“NU didirikan dengan sangat inklusif dan terbuka. Semua potensi yang ada di NU akan kita wadahi dan optimalkan. Kita harus bersatu, ada kebersamaan,” tegas Gus Kikin.
Selain konsolidasi internal, PBNU periode baru juga menyiapkan penguatan pelayanan publik, khususnya di bidang pendidikan tinggi dan kesehatan.
Transformasi pondok pesantren melalui pengelolaan yang lebih profesional turut menjadi agenda. Pengalaman pengelolaan rumah sakit dan perguruan tinggi NU di Jawa Timur akan menjadi salah satu rujukan untuk dikembangkan secara nasional.
Prabowo Tutup Muktamar NU ke-35
Muktamar Ke-35 NU secara resmi ditutup Presiden Prabowo Subianto di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo dikukuhkan sebagai warga kehormatan NU. Ia juga menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) seumur hidup.
Pengukuhan tersebut disambut tepuk tangan para kiai, nyai, dan nahdliyin yang hadir. Sejumlah pejabat negara turut menghadiri penutupan muktamar, di antaranya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya stabilitas politik dan koalisi besar untuk menopang pemerintahan serta menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.
Prabowo juga menyoroti pentingnya memperkuat ekonomi masyarakat lapisan bawah.
Menurut dia, dana yang diperoleh dari efisiensi anggaran akan diarahkan untuk berbagai program pengentasan kemiskinan, termasuk penyediaan hunian layak dan perluasan akses pembiayaan bagi masyarakat.
“Akses permodalan ini penting agar masyarakat kita bisa lepas sepenuhnya dari jerat rentenir,” kata Prabowo di hadapan peserta muktamar.
Menurut Prabowo, NU memiliki posisi strategis dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan diperlukan agar masyarakat memiliki akses ekonomi yang lebih baik dan tidak terjebak dalam praktik rentenir.
“Kita tidak beraspirasi untuk hidup seperti negara-negara dunia pertama. Kita hanya ingin rakyat kita hidup dengan layak, hidup dengan baik, bisa makan dengan baik, punya rumah yang layak, dan punya penghasilan tiap bulan yang cukup,” ujar Prabowo.
Prabowo Apresiasi Muktamar NU
Prabowo juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU. Menurut dia, forum tersebut menunjukkan kedewasaan NU dalam mengelola perbedaan pandangan dan kompetisi internal organisasi.
“Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya disampaikan kepada jajaran kepemimpinan NU yang baru saja terpilih,” kata Prabowo.
Ia menilai kemampuan NU mengelola keberagaman suara hingga tingkat akar rumput menjadi pelajaran penting bagi tata kelola organisasi nasional.
Dengan terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam, NU memasuki periode kepemimpinan baru 2026-2031 dengan sejumlah agenda besar.
Mulai dari konsolidasi organisasi, penataan SDM, penguatan ekonomi umat, hingga peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan pesantren menjadi pekerjaan rumah yang akan menentukan arah NU dalam lima tahun mendatang.(*/hel)