Beranda
Seputar Publik / Berita

Produksi Kopi PTPN IV PalmCo Melonjak 225 Persen, Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Diversifikasi Agribisnis Nasional

Transformasi pasca-merger mendorong peningkatan kinerja komoditas non-core. Selain kopi, PTPN IV PalmCo juga memperkuat daya saing karet dan teh melalui efisiensi operasional, peningkatan kualitas, dan optimalisasi pasar.
Aktivitas panen kopi di salah satu unit usaha PTPN IV PalmCo. Hingga Mei 2026, produksi kopi meningkat 225 persen sebagai bagian dari strategi diversifikasi agribisnis Holding Perkebunan Nusantara. Aktivitas panen kopi di salah satu unit usaha PTPN IV PalmCo. Hingga Mei 2026, produksi kopi meningkat 225 persen sebagai bagian dari strategi diversifikasi agribisnis Holding Perkebunan Nusantara.

Seputarpublik.com || JAKARTA – Holding Perkebunan Nusantara terus memperkuat ketahanan portofolio bisnis melalui optimalisasi berbagai komoditas strategis di luar kelapa sawit. Melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo, perusahaan tidak hanya menjaga kinerja bisnis inti (core business) kelapa sawit, tetapi juga mengakselerasi pengembangan komoditas non-core, yakni kopi, teh, dan karet.

Hingga Mei 2026, ketiga komoditas tersebut menunjukkan tren peningkatan produksi, efisiensi operasional, dan kualitas produk yang konsisten sebagai bagian dari strategi transformasi perusahaan pasca-merger.

Sebagai entitas hasil penggabungan PTPN III, PTPN IV, PTPN V, PTPN VI, dan PTPN XIII, PTPN IV PalmCo terus mengoptimalkan pengelolaan portofolio agribisnis secara terintegrasi guna memperkuat daya saing perusahaan.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pencapaian komoditas non-core menjadi salah satu indikator keberhasilan strategi diversifikasi usaha dan konsolidasi aset pasca-merger.

"Pasca-merger, kami memiliki tanggung jawab untuk mengelola aset agrikultur yang lebih luas dan beragam. Publik memang lebih mengenal PTPN IV PalmCo melalui kelapa sawit, namun kami memiliki fokus yang sama besarnya untuk mengembangkan komoditas karet, teh, dan kopi. Optimalisasi pada sektor non-core ini terus kami dorong agar seluruh lini bisnis dapat beroperasi secara efisien, mandiri, dan berkontribusi positif pada profitabilitas perusahaan," ujar Jatmiko, Selasa (8/7/2026).

Komoditas kopi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi di antara lini bisnis non-core. Hingga Mei 2026, volume produksi kopi kering mencapai 135.570 kilogram, meningkat 225 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi tersebut turut mendukung kinerja keuangan komoditas kopi. Selama lima bulan pertama tahun 2026, lini usaha kopi membukukan laba bersih sebesar Rp3,07 miliar, melanjutkan tren positif tahun buku 2025 ketika unit usaha Java Coffee Estate mencatatkan laba sebesar Rp42,70 miliar.

Direktur Operasional PTPN IV PalmCo, Rediman Silalahi, menjelaskan bahwa peningkatan produksi merupakan hasil penerapan standardisasi kultur teknis yang lebih optimal di lapangan sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.

"Pertumbuhan pada komoditas kopi adalah wujud dari perbaikan kultur teknis yang kini lebih terstandarisasi. Kami mengawal program penyisipan tanaman dan pengaturan penaung secara ketat untuk menjaga mikroklimat perkebunan. Di tengah fluktuasi cuaca yang memengaruhi intensitas hujan dan cahaya, disiplin pangkas dan wiwil menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas cabang-cabang produktif agar tetap berbuah optimal," jelas Rediman.

Selain kopi, PTPN IV PalmCo juga terus memperkuat daya saing komoditas karet melalui peningkatan kualitas produk. Pada kuartal I 2026, mutu Ribbed Smoked Sheet (RSS) mencapai 99,63 persen, melampaui standar perusahaan sebesar 98 persen, sehingga memperkuat posisi produk di pasar domestik maupun internasional.

Menurut Rediman, pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di sektor perkebunan tetap menjadi fokus perusahaan untuk menjaga stabilitas produktivitas karet.

"Untuk menjaga stabilitas produktivitas, kami menerapkan penataan tenaga deres secara komprehensif di seluruh regional guna menekan area yang tidak tersadap (hanca lowong). Melalui pendekatan Maximum Exploitation yang terukur, kami berupaya memastikan volume harian dan kualitas mutu karet PTPN IV PalmCo tetap terjaga dengan baik," paparnya.

Sementara itu, pada komoditas teh, perusahaan melanjutkan strategi efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas hasil produksi. Sepanjang 2025, PTPN IV PalmCo berhasil membukukan efisiensi beban produksi sebesar Rp46,47 miliar. Upaya tersebut diteruskan hingga Mei 2026 melalui mekanisasi mesin petik dan penyempurnaan proses operasional di berbagai kebun teh yang terintegrasi.

Jatmiko menambahkan bahwa efisiensi di sektor hulu juga diimbangi dengan strategi penguatan pasar melalui optimalisasi portofolio produk.

"Pada komoditas teh, kami menyeimbangkan efisiensi operasional dengan pemenuhan permintaan pasar. Selain merasakan dampak penghematan dari mekanisasi, arah produksi saat ini difokuskan pada portofolio Grade 1 seperti BOP I, BP, dan Dust, yang memiliki profil permintaan lebih stabil di pasar global," tutupnya.

Kinerja positif komoditas kopi, karet, dan teh semakin memperkuat ketahanan portofolio bisnis Holding Perkebunan Nusantara pasca-transformasi. Melalui strategi diversifikasi agribisnis, PTPN IV PalmCo terus mengoptimalkan seluruh potensi aset perkebunan secara profesional, efisien, dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan usaha serta memperkuat daya saing agribisnis nasional.(Adv)*