Saat ini, penyediaan bahan tanam karet unggul masih banyak dilakukan melalui perbanyakan vegetatif menggunakan metode okulasi. Dalam proses tersebut, batang bawah yang berasal dari biji menjadi salah satu komponen penting.
Sejumlah metode alternatif, seperti sambung, cangkok stek, dan microcutting, juga telah dicoba untuk dikembangkan. Namun, penerapannya masih memerlukan penguatan agar dapat memberikan hasil yang optimal.
Relaksasi Tetap Perlu Pengawasan
Melalui FGD tersebut, para pemangku kepentingan didorong untuk mendiskusikan kembali berbagai persyaratan dalam penyediaan benih karet, termasuk persyaratan yang masih relevan maupun yang perlu disesuaikan.
Pembahasan juga mencakup mekanisme pengawasan yang tetap perlu dipertahankan apabila dilakukan relaksasi terhadap sumber biji batang bawah.
Diskusi menegaskan bahwa perubahan regulasi tetap perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian. Setiap bentuk relaksasi diharapkan memiliki dasar teknis, mekanisme pengawasan, serta parameter mutu yang jelas.
Dengan pendekatan tersebut, penyesuaian regulasi diharapkan tidak mengesampingkan aspek kualitas bahan tanam sekaligus dapat merespons kebutuhan ketersediaan benih karet di lapangan.
Dorong Penguatan Sistem Perbenihan Nasional
Bagi PT RPN, pelaksanaan forum tersebut merupakan bagian dari upaya membangun sistem perbenihan karet nasional yang lebih kuat, adaptif, dan berkelanjutan.
Hasil FGD diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan regulasi yang mampu menjaga kualitas bahan tanam sekaligus memberikan ruang yang memadai untuk memenuhi kebutuhan benih karet nasional.
Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga penelitian, akademisi, perusahaan perkebunan, produsen benih, petani, dan pemangku kepentingan lainnya, pengembangan sistem perbenihan diharapkan dapat terus diperkuat untuk mendukung keberlanjutan komoditas karet Indonesia.(Adv)*
Komentar