Seputar Publik / Berita

PTPN IV Regional 2 Perkuat Ekonomi Warga Simalungun, 500 Lebih Warga Lokal Bekerja di Kebun Bah Jambi

Selain menyerap tenaga kerja lokal, Kebun Bah Jambi menjalankan program TJSL untuk mendukung fasilitas publik, lingkungan, dan penguatan usaha masyarakat di sekitar perkebunan.
Kebun Bah Jambi PTPN IV Regional 2 menjadi salah satu bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Simalungun melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan pelaksanaan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Kebun Bah Jambi PTPN IV Regional 2 menjadi salah satu bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Simalungun melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan pelaksanaan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Komoditas yang dikembangkan ketika itu adalah sisal atau Agave sisalana. Perubahan pengelolaan terjadi setelah Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih aset tersebut pada 2 Mei 1959 berdasarkan Peraturan Nomor 19 Tahun 1959.

Sejak nasionalisasi, pengelolaan Kebun Bah Jambi secara bertahap masuk ke dalam sistem perusahaan perkebunan negara.

Perubahan kelembagaan kemudian terus berlangsung hingga pada 1996 kebun tersebut menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara IV.

Transformasi kembali berlangsung pada 2014–2015 ketika Kementerian BUMN menunjuk PTPN III (Persero) sebagai induk Holding Perkebunan Nusantara.

Selanjutnya, pada 2023 dibentuk Subholding PalmCo dengan PTPN IV sebagai induknya.

Dalam struktur tersebut, Kebun Bah Jambi kini menjadi salah satu unit usaha PTPN IV Regional 2.

Bagi perusahaan, perubahan organisasi tersebut tidak mengubah kebutuhan untuk menjaga hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Aktivitas produksi perkebunan berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

> “Bagi PTPN IV Regional 2, masyarakat sekitar merupakan bagian penting. Karena itu kami berupaya agar manfaat perusahaan dapat dirasakan secara nyata oleh warga, baik melalui kesempatan kerja maupun dukungan seperti fasilitas umum,” kata Ridho.(Red.)*

Tulis Komentar

Komentar