Seputarpublik, Jakarta – Putri Presiden pertama RI Dhewi Ayhai Woelandari atau yang juga dikenal dengan nama Dewi Ayu Gembirowati mengaku miris melihat tanah tanah garapan milik para veteran banyak yang berpindah tangan ke pihak lain tanpa izin alias ilegal.
“Ya saya melihat selama ini banyak tanah tanah garapan yang dulu di berikan negara untuk para perintis kemerdekaan atau para veteran untuk dikelola, tetapi saat ini banyak yang telah berpindah tangan secara illegal,” ungkapnya kepada Seputar Publik.com dikantornya Gedung LVRI Plaza Semanggi, Selasa (29/11/2022).
Soal berpindah tangan ke pihak lain, Dewi Ayu tak mau suudzon, menurutnya mungkin persoalannya karena para perintis tidak punya modal dan kekuatan baik pisik maupun materi untuk mengelola lahan tersebut.
“Makanya banyak lahan garapan perintis jadi terbengkalai, tak terurus akhirnya digarap sama pihak lain,” ujarnya.
Masalah ini, kata Dewi Ayu, sejak dirinya diberi amanah menjabat Ketua Dewan Penasehat LVRI, sekaligus pemegang kuasa “Treasure Bank” atau managemen perencanaan dan pengelolaan keuangan LVRI. Akan jadi program perioritas untuk diurus atau diperjuangkan demi meningkatkan kesejahteraan para Veteran.
“Jadi lahan lahan ini nanti akan kita perjuangkan, Tanah tanah garapan kalau ada yang masih kosong kita kelola dan kita gunakan untuk bisa berdaya guna demi meningkatkan kesejahteraan para veteran,” tuturnya.
Ketika ditanya tentang potret kesejahteraan para veteran yang memperihatinkan. Putri Bungsu Bung Karno ini secara terang terangan mengaku miris melihat kehidupan para veteran dari masa ke masa sangat memperihatinkan.
Menurut Putri Bung Karno ini, Para veteran kita selama ini memang dapat gaji dari negara, tapi itu sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal sekarang ini. Apalagi, kalau dibandingkan dengan apa yang sudah diberikan Veteran untuk Bangsa Ini yakni, kemerdekaan, sangat tidak sesuai dengan perjuangan dan pengorbanan mereka.
“Bayangkan para veteran selama ini mendapat gaji dari negara sebulan rata rata Rp. 900 ribu semua rata sama. Bila dibandingkan perjuangan mereka memerdekaan bangsa ini ‘kan sangat tidak sesuai,” tandasnya.
Mereka berjuang memang ikhlas, tanpa pamrih. Tapi mereka juga kan manusia punya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Apalagi mereka semua sudah pada uzur yang sudah gak bisa bekerja keras lagi mencari nafkah.
“Nah perhatian yang lebih dari negara sangat diperlukan untuk membantu para mantan pejuang RI kita tersebut,” pungkasnya.