Gagasan tersebut menunjukkan bahwa perjuangannya tidak hanya sebatas pelestarian budaya, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.
Warisan yang Terus Hidup
Hingga wafat pada 13 Mei 2014, Amarullah Asbah tetap konsisten memperjuangkan nilai-nilai kebetawian. Sepeninggalnya, semangat tersebut terus dirawat oleh keluarga dan masyarakat.
Putrinya, Rika Lestari, mengaku bangga melihat gagasan sang ayah terus berkembang dan menjadi bagian dari identitas Jakarta.
Kini, Lebaran Betawi tidak hanya menjadi milik masyarakat Betawi, tetapi juga telah menjelma sebagai simbol budaya Jakarta yang inklusif, merangkul berbagai kalangan dalam semangat persaudaraan dan keberagaman.
Warisan Bang Uwo pun tetap hidup, mengakar, dan tumbuh bersama denyut kehidupan kota Jakarta.(*/hel)
Komentar