Beranda
Seputar Publik / Opini

Aulia Masjhoerdin, GM Aston Kartika Grogol: Meracik Keramahtamahan dari Dua Dunia hingga Memimpin Industri Perhotelan

Dibesarkan di Australia dan berkarier puluhan tahun di industri hospitality, Aulia Masjhoerdin membawa disiplin Barat dan kearifan lokal dalam memimpin hotel di Jakarta
General Manager Aston Kartika Grogol, Aulia Masjhoerdin, berbagi kisah perjalanan kariernya dari Australia hingga memimpin industri hospitality di Jakarta dengan prinsip komunikasi, koordinasi, dan konsistensi. General Manager Aston Kartika Grogol, Aulia Masjhoerdin, berbagi kisah perjalanan kariernya dari Australia hingga memimpin industri hospitality di Jakarta dengan prinsip komunikasi, koordinasi, dan konsistensi.

Seputarpublik.com, JAKARTA — Sore itu langit di Jakarta terlihat bersahabat setelah berminggu-minggu diguyur hujan. Di lantai atas Aston Kartika Grogol Hotel yang berada di kawasan Jalan Kiai Tapa, Jakarta Barat, Sutan Aulia Masjhoerdin duduk santai di ruang kerjanya yang modern.

Di luar jendela, arus lalu lintas kawasan Grogol terlihat padat seperti biasa. Sambil menunggu waktu berbuka, ia tersenyum dan berkata ringan, “Ini namanya ngabuburit.”

Adzan magrib masih sekitar satu jam lagi.

Nama lengkapnya Sutan Aulia Masjhoerdin, namun dalam kartu nama ia menuliskan S. Aulia Masjhoerdin. Saat ini ia menjabat sebagai General Manager Aston Kartika Grogol Hotel, salah satu jaringan hotel yang dikelola oleh Archipelago International.

Perbincangan dengan Aulia mengalir santai. Cara bicaranya lugas dan ramah, sesekali diselingi tawa. Pengalaman panjang di industri perhotelan membuatnya terbiasa membaca situasi dengan cepat.

Besar di Australia

Meski memiliki darah Minangkabau dari Sumatera Barat, masa kecil Aulia justru dihabiskan di Australia.

Ia menghabiskan sekitar 25 tahun hidupnya di Negeri Kanguru, bahkan seluruh pendidikan formalnya ditempuh di sana.

Orang tuanya merantau ke Australia sejak 1954. Sang ayah yang sebelumnya bekerja di Bank Indonesia kemudian bertugas di perwakilan Indonesia di Australia. Selain itu, ayahnya juga dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim awal di kota Canberra.

“Ayah saya juga yang membangun salah satu kompleks pemakaman Islam pertama di Canberra,” ujar Aulia.

Lingkungan multikultural Australia membuatnya belajar tentang disiplin, konsistensi, dan komitmen terhadap janji.

“Kalau orang Barat janji A, ya A. Janji B, ya B,” katanya.

Memulai dari Pekerja Paruh Waktu

Seperti banyak mahasiswa di Australia, Aulia sudah bekerja sejak muda untuk membantu perekonomian keluarga setelah ayahnya meninggal.

Ia pernah bekerja sebagai waiter, cleaner, hingga breakfast cook di restoran.

Di Australia, pekerjaan paruh waktu memang umum dilakukan mahasiswa karena sistem pembayaran berdasarkan jam kerja.

“Jadi sejak sekolah dan kuliah, saya sudah terbiasa mencari uang sendiri,” ujarnya.

Awalnya ia tidak bercita-cita bekerja di industri hotel. Saat kuliah ia mengambil jurusan manajemen dengan bayangan bekerja di kantor. Namun pengalaman kerja di restoran membuatnya tertarik pada dunia hospitality.

“Awalnya bukan passion. Tapi lama-lama saya melihat industri ini menarik karena kita bertemu banyak orang dari berbagai negara,” katanya.

Kembali ke Indonesia dan Memulai Karier Hotel

Akhir 1990-an menjadi titik balik dalam hidupnya. Aulia memutuskan kembali ke Indonesia dan mulai bekerja di Hotel Sahid Jaya Jakarta sebagai tenaga sales.

Kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik membuatnya banyak menangani pasar kedutaan besar dan tamu internasional.

Ia bekerja selama lima tahun di sana sebelum sempat berpindah ke industri logistik dan bergabung dengan perusahaan multinasional seperti UPS dan TNT Express sebagai corporate account manager.

Namun setelah sekitar tujuh hingga delapan tahun, ia memutuskan kembali ke dunia hotel.

“Di hotel, kalau ada masalah kita bisa langsung selesaikan. Tidak perlu menunggu koordinasi lintas negara,” ujarnya.

Bersama Aston dan Ekspansi Hotel

Sekitar tahun 2002, Aulia bergabung dengan jaringan hotel Aston yang saat itu masih memiliki sedikit properti di Indonesia.

Ia memulai karier sebagai Sales Manager di Aston Semanggi, lalu dipromosikan menjadi Assistant Director of Sales.

Tak lama kemudian ia dipercaya ikut membuka Aston Rasuna di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta.

Di sana ia menghadapi tantangan besar: tingkat hunian hotel harus mencapai minimal 68 persen agar program investasi apartemen yang terhubung dengan hotel bisa berjalan.

Hasilnya justru melampaui target.

“Tahun pertama kami mencapai 85 persen occupancy,” katanya.

Keberhasilan tersebut ikut mendorong ekspansi jaringan Archipelago International yang kini mengelola sekitar 168 properti hotel dengan berbagai merek seperti Favehotel, Harper Hotels, dan The Alana Hotel.

Memimpin dengan Kekuatan Tim

Sebagai general manager, Aulia melihat hotel sebagai sistem kerja kolektif yang melibatkan banyak divisi, mulai dari front office, housekeeping, engineering, hingga food and beverage.

“Kalau satu saja tidak berjalan baik, tamu bisa kecewa,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kerja tim agar setiap tamu datang dengan senyum dan pulang dengan pengalaman yang menyenangkan.

Ia juga menjelaskan konsep service charge, yaitu pembagian sebagian pendapatan hotel kepada karyawan.

“Kalau pelayanan bagus, tamu kembali. Revenue naik. Semua ikut senang,” katanya.

Bertahan di Masa Pandemi

Ujian terberat dalam kariernya datang saat pandemi COVID-19.

Ketika banyak hotel tutup, hotel yang dipimpinnya tetap bertahan dengan mengubah strategi pasar.

Segmen korporasi yang berhenti akibat pembatasan perjalanan digantikan dengan pasar pemerintah dan program karantina pekerja industri minyak dan gas.

Strategi itu cukup menjaga operasional hotel tetap berjalan.

“Yang penting hotel tidak tutup. Kalau tutup, pegawai mau makan apa?” katanya.

Tiga Kunci Sukses

Bagi Aulia, kesuksesan dalam industri perhotelan sebenarnya sederhana.

“Kunci sukses di hotel itu hanya tiga,” ujarnya.

Komunikasi, koordinasi, dan konsistensi.

Menurutnya, banyak organisasi gagal bukan karena strategi yang buruk, tetapi karena komunikasi internal yang tidak berjalan baik.

“Simple,” katanya.

“Tapi justru yang simple itu sering dilupakan." (***)