Seputarpublik.com || JAKARTA — Penyelenggaraan Abang None Jakarta 2026 mendapat perhatian dari Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta sekaligus anggota Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB), Prof. Dr. H. Dailami Firdaus.
Dailami menilai, penyelenggaraan Abang None Jakarta tidak semata-mata berkaitan dengan pemilihan figur yang menjadi representasi Jakarta. Menurutnya, ajang tersebut juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus memperkenalkan jati diri dan nilai-nilai budaya Betawi.
Menurut Dailami, ketika nama dan budaya Betawi dibawa dalam sebuah kegiatan, identitas Betawi perlu dihormati secara utuh. Budaya Betawi, kata dia, tidak cukup hanya ditampilkan melalui pakaian, kesenian maupun simbol-simbol budaya.
«“Kalau kita membawa nama dan budaya Betawi, maka jati diri Betawi harus dihormati secara utuh. Jangan Betawi hanya ditampilkan melalui pakaian, kesenian, atau simbol-simbolnya, sementara nilai yang menjadi ruhnya justru ditinggalkan,” ujar Dailami.»
Ia menjelaskan, sejak dahulu kehidupan masyarakat Betawi bertumpu pada tiga pilar yang saling berkaitan, yakni Agama, Adab, dan Adat. Ketiga unsur tersebut, menurutnya, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Betawi.
«“Betawi sejak dahulu bertumpu pada tiga pilar: Agama, Adab, dan Adat. Ketiganya tidak bisa dipisahkan,” katanya.»
Minta Konsep Abang None Dievaluasi
Dailami juga menyampaikan bahwa dirinya memahami kegelisahan yang muncul di tengah masyarakat dan sejumlah tokoh Betawi terkait penyelenggaraan Abang None Jakarta tahun ini.
Namun, ia menekankan bahwa persoalan tersebut tidak seharusnya hanya dilihat dari siapa yang terpilih sebagai Abang dan None Jakarta.
«“Persoalannya bukan semata-mata siapa yang terpilih, tetapi bagaimana marwah dan jati diri Betawi tetap dijaga,” ujarnya.»
Karena itu, Dailami meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama penyelenggara melakukan evaluasi terhadap konsep dan mekanisme penyelenggaraan Abang None Jakarta.
Ia menyampaikan setidaknya terdapat tiga langkah yang perlu dilakukan.
Pertama, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep dan kriteria pemilihan Abang None Jakarta.
Kedua, menetapkan standar representasi budaya Betawi yang berlandaskan pada nilai Agama, Adab, dan Adat.
Ketiga, melibatkan ulama, tokoh adat, budayawan, serta lembaga kebetawian sejak tahap perencanaan hingga proses penilaian.
Menurut Dailami, keterlibatan para pemangku kepentingan kebudayaan tersebut penting agar representasi Betawi dalam ajang Abang None tidak berhenti pada aspek seremonial dan simbolik.
«“Abang None jangan hanya beratribut Betawi, tetapi harus memahami, menghormati, dan mampu membawa nilai-nilai Betawi,” tegasnya.»
Jakarta Kota Global, Betawi Tetap Berakar
Dailami mengatakan, perkembangan Jakarta sebagai kota global tidak semestinya membuat identitas budaya lokal kehilangan tempat.
Menurut dia, keterbukaan Jakarta terhadap dunia justru perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar budaya masyarakatnya.
«“Kita ingin Jakarta menjadi kota global, modern, dan terbuka. Tetapi menjadi global bukan berarti kehilangan akar,” katanya.»
Ia berharap Abang None Jakarta ke depan dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan Jakarta sekaligus menghadirkan nilai-nilai budaya Betawi kepada masyarakat luas.
Dengan demikian, figur Abang dan None tidak hanya memiliki kemampuan tampil sebagai representasi Jakarta, tetapi juga memahami budaya yang menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas kota tersebut.
«“Jakarta boleh mendunia, tetapi Betawi jangan kehilangan jati dirinya. Agama dijaga, Adab dijunjung, dan Adat dilestarikan,” ujar Dailami.»(/hel)*