Seputar Publik, Bekasi - Perguruan Attaqwa meneguhkan kembali warisan pemikiran dan perjuangan KH. Noer Alie melalui momentum Halalbihalal 1447 H yang dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerjasama (PKS) bersama Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Almarhum Almaghfurloh Pahlawan Nasional KH. Noer Alie
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga langkah strategis dalam memperkuat sinergi pendidikan Islam berbasis nilai, tradisi, dan keberlanjutan untuk kemaslahatan umat.
Dalam perspektif Perguruan Attaqwa, kolaborasi ini merupakan bagian dari ikhtiar melanjutkan jejak KH. Noer Alie sebagai ulama, pendidik, dan pejuang umat yang menempatkan pendidikan sebagai jalan membangun peradaban. Spirit tersebut tercermin dalam penguatan sistem pendidikan Attaqwa yang terus berkembang, sekaligus dalam upaya membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk memperkuat kualitas dan jangkauan dampak pendidikan.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Badan Pembina, Pengurus dan Pengawas, pimpinan Perguruan Attaqwa, serta jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah Jakarta, termasuk Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Dr. Ma’mun Murod. Kehadiran kedua institusi ini menegaskan pentingnya kolaborasi antarlembaga pendidikan Islam dalam menjawab tantangan zaman, sekaligus menjaga kesinambungan nilai-nilai keumatan dalam sistem pendidikan modern.
Warisan KH. Noer Alie: Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian Umat
Perguruan Attaqwa memandang bahwa seluruh pengembangan pendidikan yang dilakukan hari ini tidak dapat dilepaskan dari fondasi yang telah dibangun oleh KH. Noer Alie. Sebagai tokoh yang memiliki kedekatan dengan tradisi pendidikan Muhammadiyah dan aktif dalam dinamika keumatan melalui Masyumi, KH. Noer Alie meletakkan pendidikan sebagai instrumen utama dalam membentuk umat yang kuat secara iman, ilmu, dan amal.
Gagasan tersebut hingga kini hidup dalam sistem pendidikan Attaqwa, yang menekankan pembentukan insan “benar dan pintar”—yakni generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan komitmen sosial. Nilai ini menjadi dasar dalam setiap pengembangan program pendidikan, sekaligus menjadi pembeda Attaqwa dalam membangun ekosistem pendidikan yang berakar pada tauhid dan akhlak.
Dalam konteks ini, kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta dipandang sebagai bagian dari kesinambungan historis sekaligus penguatan jalur intelektual yang telah dirintis oleh KH. Noer Alie.
Attaqwa–UMJ: Dari Jejak Sejarah ke Kolaborasi Masa Depan
Penandatanganan tiga Nota Kesepahaman dan sepuluh Perjanjian Kerjasama antara Perguruan Attaqwa, Ma’had Aly Attaqwa KH. Noer Alie, Institut Attaqwa KH. Noer Alie, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta menjadi langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi antarlembaga pendidikan Islam yang telah terjalin sejak 2022 silam.
Kerjasama ini mencakup penguatan Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam bidang pendidikan, kolaborasi diarahkan pada pemberian beasiswa bagi alumni dan guru, pendampingan manajerial sekolah, serta program pertukaran mahasiswa dan dosen.
Pada bidang penelitian, kedua pihak akan mengembangkan riset kolaboratif, publikasi ilmiah, serta diseminasi hasil penelitian yang relevan dengan kebutuhan umat. Sementara itu, dalam bidang pengabdian masyarakat, kerjasama difokuskan pada penguatan kapasitas guru dan sekolah, pendampingan kelembagaan, serta pelaksanaan pelatihan dan workshop secara berkelanjutan.
Bagi Perguruan Attaqwa, kolaborasi ini bukan sekadar formalitas kelembagaan, tetapi bagian dari strategi membangun sistem pendidikan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berdaya saing, tanpa meninggalkan akar nilai yang menjadi fondasinya.
Belajar dari Muhammadiyah: Menguatkan Sistem, Menjaga Nilai
Dalam tausiah kebangsaan, Ma’mun Murod menegaskan pentingnya belajar dari pengalaman Muhammadiyah dalam membangun sistem pendidikan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah terletak pada kemampuannya menjadikan pendidikan sebagai sistem yang hidup—yang tidak hanya berkembang secara kuantitatif, tetapi juga kokoh secara kelembagaan dan konsisten secara nilai.
Pandangan ini sejalan dengan arah pengembangan Perguruan Attaqwa yang saat ini mengelola ratusan satuan pendidikan dari berbagai jenjang. Dengan jumlah 172 satuan pendidikan, 6 pondok pesantren, dan 2 perguruan tinggi, Attaqwa menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat institusionalisasi pendidikan agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Keterkaitan historis antara Attaqwa dan Muhammadiyah melalui figur KH. Noer Alie menjadi landasan penting dalam membangun kolaborasi yang lebih mendalam. Nilai bahwa amal usaha pendidikan adalah milik umat juga menjadi prinsip bersama yang memperkuat komitmen kedua lembaga dalam membangun pendidikan yang berdampak luas.
Halalbihalal ini menjadi momentum bagi Perguruan Attaqwa untuk tidak hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga meneguhkan arah gerak pendidikan ke depan. Pimpinan Perguruan Attaqwa, KH. Irfan Mas’ud, menekankan bahwa seluruh kerjasama yang telah dibangun harus ditindaklanjuti dalam bentuk program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi umat.
Dengan berpijak pada warisan KH. Noer Alie dan diperkuat melalui kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Perguruan Attaqwa meneguhkan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membimbing, membentuk, dan mengabdi. Seperti yang ditandaskan oleh Pimpinan Perguruan, tujuan utamanya adalah dari Attaqwa untuk umat, dari pendidikan untuk peradaban.
(Red)