“Ini luar biasa karena budaya Betawi di sini benar-benar hidup. Kuliner, arsitektur, sampai aktivitas warganya terasa sangat autentik dan bukan sesuatu yang dibuat dadakan,” ujarnya.
Menurut Ubay, budaya Betawi yang ditampilkan masyarakat bukan sekadar dekorasi seremonial, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi warga. Aktivitas UMKM berbasis budaya seperti kuliner tradisional dan pertunjukan seni dinilai mampu menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat.
“Ini contoh ekonomi budaya. Masyarakat bisa memperoleh manfaat ekonomi dari budaya yang mereka lestarikan,” katanya.
Dalam penilaian festival, tim juri tidak hanya menilai keindahan dekorasi lingkungan, tetapi juga melihat sejauh mana budaya Betawi tumbuh dan dijalankan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Aspek yang dinilai meliputi kesenian, musik tradisional, kuliner khas, aktivitas ekonomi warga, hingga identitas visual dan ornamen Betawi yang menghiasi lingkungan kampung.
Sementara itu, Lurah Palmerah, Uki Elianto, menegaskan pihak kelurahan mendukung penuh kegiatan pelestarian budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pengurus lingkungan, dan warga menjadi kunci menjaga identitas budaya lokal di tengah pesatnya perkembangan kota.
“Kami bersama RT dan RW terus mendukung kegiatan seperti ini melalui fasilitas dan sumber daya yang tersedia,” kata Uki.
Komentar