Ketidaksetujuan dapat disampaikan tanpa harus merendahkan pihak lain. Kritik dapat diberikan tanpa menghilangkan rasa hormat. Dengan cara tersebut, perbedaan justru dapat menjadi sarana untuk memperbaiki keadaan.
Menurutnya, hubungan yang sehat—baik dalam pertemanan, pekerjaan maupun organisasi—membutuhkan kepercayaan.
Kepercayaan akan sulit tumbuh apabila komunikasi hanya dibangun melalui kepura-puraan.
Karena itu, yang perlu dihindari bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan pola komunikasi yang menutup ruang dialog dan membuat persoalan berkembang di belakang layar.
Tentang Taufiq Ismail
Dalam tulisannya, Heru juga menyinggung Taufiq Ismail, yang dikenal melalui karya-karya yang banyak mengangkat kritik terhadap moralitas dan kondisi sosial-politik Indonesia.
Salah satu karya yang disebut adalah Malu Aku Jadi Orang Indonesia.
Penyebutan karya tersebut ditempatkan sebagai bagian dari refleksi mengenai kritik sosial dan moralitas, bukan untuk menggeneralisasi karakter seluruh masyarakat Indonesia.
Kejujuran sebagai Modal Membangun Kepercayaan
Pada akhirnya, perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.
Seseorang tidak harus selalu sepakat dengan orang lain. Namun, perbedaan tersebut idealnya disampaikan dengan jujur, santun, dan bertanggung jawab.
Kritik yang terbuka masih memberikan kesempatan untuk melakukan koreksi. Sebaliknya, ketidakjujuran yang terus disimpan dapat mengikis kepercayaan dan menciptakan konflik yang tidak terlihat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, budaya terbuka dan keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab dapat menjadi salah satu modal untuk membangun masyarakat yang lebih dewasa.
* Penulis: Heru Riyadi, S.H., M.H. - Dosen Etika Profesi FH UnPam, Penasehat AMKI
Komentar