Heru menilai, mengatakan “saya tidak setuju” sering kali membutuhkan keberanian yang lebih besar dibandingkan sekadar berpura-pura sepakat.
Karena itu, menurutnya, ketidaksetujuan tidak semestinya selalu dipandang sebagai ancaman. Perbedaan pendapat dapat menjadi bagian dari proses membangun hubungan yang sehat apabila disampaikan secara proporsional dan berdasarkan alasan yang jelas.
Keterbukaan juga memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengetahui kekurangan atau kesalahan yang mungkin dilakukan.
Sebaliknya, apabila kritik disembunyikan dan ketidaksetujuan hanya disampaikan di belakang, persoalan dapat berkembang menjadi konflik yang sulit dideteksi sejak awal.
“Kejujuran memang membutuhkan keberanian. Mengatakan ‘saya tidak setuju’ sering kali lebih sulit daripada berpura-pura setuju,” demikian refleksi yang disampaikan Heru.
Mengutip Pemikiran Mochtar Lubis
Dalam refleksinya, Heru mengutip pidato kebudayaan Mochtar Lubis yang disampaikan pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dan kemudian dibukukan dengan judul Manusia Indonesia.
Dalam pidato tersebut, Mochtar Lubis menguraikan sejumlah karakter yang menurutnya melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu. Salah satunya adalah sifat hipokrit atau munafik.
Komentar