Bagas menambahkan, mahasiswa hanya berniat bertemu langsung dengan Bupati Serang untuk menyampaikan hasil kajian mereka. “Niat kami ingin bertemu Ibu Bupati, tapi malah dihadang dan bahkan ada yang ditendang. Itu tindakan represif,” ujarnya.
Dalam orasinya, Ketua Umum HMI Cabang Serang, Eman Sulaeman, menyatakan bahwa usia Kabupaten Serang yang hampir lima abad seharusnya menjadi momentum refleksi dan perbaikan, bukan sekadar seremonial tahunan.
“Kabupaten Serang semakin tua, bupati bahagia, rakyat menderita. Ini saatnya pemerintah berhenti pencitraan dan fokus pada kesejahteraan masyarakat,” tegas Eman.
Setelah aksi ini berlangsung kita meminta adanya dialog khsusus dengan bupati dan juga DPRD kabupaten serang dan kita tunggu sampai satu bulan kedepan,tutup Eman
Sebelum tuntutan disampaikan, sempat terjadi dorong-dorongan antara mahasiswa dan aparat keamanan yang berjaga. Situasi memanas saat massa berusaha mendekat ke lokasi upacara, namun berhasil diredam setelah dilakukan mediasi antara koordinator aksi dan kepolisian.
Dalam pernyataannya, HMI Cabang Serang menyampaikan 16 poin tuntutan, antara lain:
- Penurunan angka pengangguran dengan membuka lapangan kerja berbasis potensi lokal;
- Perbaikan fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan;
- Penindakan tegas terhadap aktivitas tambang ilegal dan pencemaran lingkungan;
- Evaluasi proyek infrastruktur dan penanganan sampah yang masih buruk;
- Penutupan tempat hiburan malam ilegal serta penanganan kasus kekerasan seksual di sekolah.
Aksi mahasiswa berlangsung tertib setelah tuntutan dibacakan. Pihak pemerintah daerah dan DPRD menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi tersebut melalui mekanisme resmi.
Perayaan HUT Kabupaten Serang ke-499 sendiri dilaksanakan dengan berbagai acara seremonial dan budaya. Namun, aksi mahasiswa ini menjadi sorotan utama publik sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pembangunan daerah yang dinilai belum merata dan berpihak kepada masyarakat kecil. (***)
Komentar