Seputar Publik / Opini

Kalau Alam Sudah Menegur

Catatan Hendry Ch Bangun FWK
Hendry Ch Bangun, Tokoh Pers Nasional Hendry Ch Bangun, Tokoh Pers Nasional

Ya kadang kita harus berhenti sejenak. Itulah yang barangkali pesan hening yang dialami mereka yang kemarin itu. Kewajiban ada, terhadap tempat bekerja, tempat organisasi kita menjadi anggota, terhadap atasan menuntut prestasi, keluarga yang meminta perhatian, dan masyarakat yang ingin kita layani.

Dalam keadaan normal hal demikian wajib kita jalankan. Tetapi rutinitas terkadang membuat kita terlena dalam waktu yang diburu-buru. Waktu yang kita paksakan pada tubuh dan pikiran untuk memuaskan keinginan, khususnya akan prestasi dan pengakuan orang lain. Bagi orang yang sudah makan asam garam kehidupan, itulah hidup khususnya di Jakarta. Berlari dan berlari agar tidak tertinggal dalam kompetisi untuk hidup dan berhasil.

Karena itu saya senang melihat banyaknya anak-anak muda yang memulai libur dengan keluarga di usia 40-an bahkan 30-an. Mereka pergi ke taman hiburan, daerah wisata yang terkenal, bahkan ke luar negeri bagi yang mampu. Banyak pula kalangan muda yang pergi Umrah bersama keluarga dengan anak yang masih balita atau Sekolah Dasar.

Mereka menikmati kebahagian ketika badan masih kuat, makan masih enak, pikiran masih baik, sehingga berlibur betul-betul healing, menyegarkan pikiran da recharge sehingga akan fresh dan tambah semangat ketika kembali bekerja. Padahal generasi baby boomers, rata-rata berlibur ketika menjelang pensiun, di atas 50 tahun. Makan steak saja sudah harus jaga-jaga biar giginya nggak goyah. Mau trekking, sudah ngos-ngosan. Duduk-duduk di luar ruang sudah harus pakai sweater biar nggak masuk angin.

Jeda sejenak, delay pesawat karena dampak semburan abu vulkanik Anak Krakatau, menyuruh kita bersikap lebih arif dalam melihat kehidupan. Bukan hanya kepada puluhan ribu penumpang. Tetapi juga jutaan masyarakat Indonesia terdampak, mulai dari Bengkulu, Sumsel, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, yang kebagian abu, mengotori rumah dan memaksa penduduk menggunakan masker.

Ada pesan yang disampaikan dan seharusnya kita tangkap sebaik-baiknya agar tidak terpuruk dalam kesedihan. Sebab sejatinya manusia tidak pernah berhenti belajar sampai akhir khayatnya.

Ciputat, 7 September 2026.

Penulis: Hendry Ch Bangun - Tokoh Pers Nasional 

Tulis Komentar

Komentar