Marah pasukannya di eksekusi, pada tanggal 29 November 1945, tentara sekutu melakukan penyerangan ke Cakung, Pondok Ungu dan Kranji. Sekutu menggunakan tentara Punjab ke-1/16, Skuadron Kaveleri F.A.V.O ke-11, pasukan perintis ke-13, pasukan Resimen medan ke-37, detasemen kompi medan ke-69, dan dengan 50 truk, 5 meriam serta beberapa mortir dan kanon.
Pertempuran pertama pecah di Cakung, mengakibatkan jatuh korban pada kedua belah pihak, dari pihak Republik (pejuang kemerdekaan) sebanyak 13 orang gugur.
Pasukan sekutu kemudian terus merangsek masuk ke jantung wilayah Bekasi. Namun langkah mereka tertahan di Kampung Rawapasung. Mereka ditahan oleh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam TKR, Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Laskar Rakyat (LR) dan Pasukan Penack Silat (PS) lewat pertempuran yang sangat sengit.
Pasukan sekutu kesulitan menembus hadangan para pejuang kemerdekaan, mereka kewalahahan lalu mundur ke arah Pondok Ungu (saat ini wilayah Kelurahan Medan Satria).
Di sana, pasukan Hizbullah pimpinan KH Noer Ali dan dua regu pasukan TKR laut Pimpinan Mayor Madnuin Hasibuan sudah menunggu.Pertempuran mematikan pun akhirnya pecah, pasukan KH. Noer Ali yang hanya bermodalkan golok dan bambu runcing menyerang secara mendadak pasukan sekutu yang sebelumnya sudah dipukul mundur pejuang di Rawapasung.
Komentar