Seputat Publik, Kota Bekasi - Dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah banyak kisah heroik perjuangan para pejuang kita yang tercatat dalam lembaran sejarah bangsa kita.
Salah satunya pertempuran "Sasak Kapuk" di Kaliabang Bungur Bekasi yang dipimpin ulama Betawi terkemuka, KH. Noer Alie, sebuah fakta sejarah yang nyaris terlupakan bahkan, tidak mendapat perhatian dari Pemerintah.
Dinamakan pertempuran "Sasak Kapuk" karena terjadi di jembatan Sasak Kapuk yang terbuat dari kayu di Kaliabang Bungur Bekasi. Pertempuran ini meletus pada tanggal 29 November 1945.
Dalam buku biografi KH. Noer Alie yang berjudul “KH. Noer Alie: Kemandirian Ulama Pejuang”yang ditulis oleh Ali Anwar dikisahkan awal mula meletusnya pertempuran Sasak Kapuk.
Awal pertempuran Sasak Kapuk bermula, ketika pesawat Dakota Inggris yang lepas landas dari lapangan udara Kemayoran, Jakarta Pusat menuju Semarang pada tanggal 23 November 1945 mengalami jatuh di Rawa Gatel, Cakung, Jakarta Timur.
Pesawat naas tersebut jatuh diduga mengalami kerusakan mesin sehingga harus melakukan pendaratan darurat di Rawa Gatel, Cakung, sekitar pukul 11.00 WIB.
Penduduk Cakung, Jakarta Timur yang mengetahui ada pesawat musuh mendarat daurat segera mengepung pesawat, kemudian menangkap seluruh awak pesawat dan penumpangnya yang berjumlah 26 orang, dengan rincian 4 orang awak pesawat berkebangsaan Inggris dan 22 orang sisanya berkebangsaan India (Sykh).
Setelah ditangkap senjata dan pakaian mereka dilucuti hingga tinggal memakai cawat saja, seluruh tawanan lalu dikirim ke markas TKR Ujung Menteng, selanjutnya dibawa ke markas TKR Batalyon V Bekasi, dan dijebloskan ke dalam sel tangsi polisi Bekasi.
Mengetahui pasukannya ditawan pejuang kita, sore harinya, pasukan berkuda dan tank Sekutu dikirim ke tempat kejadian untuk mencari pasukannya. Namun karena tidak mendapatkan hasil, pada malam harinya, mereka kembali ke Jakarta.
Nah, pada esok harinya, tanggal 24 November 1945, komandan tentara Inggris di Jakarta mengeluarkan maklumat agar seluruh pasukannya yang ditawan TKR tersebut dibebaskan dan dikembalikan ke Jakarta. Tetapi, pemuda Bekasi menolaknya. Bahkan tiga hari kemudian, seluruh tahanan dieksekusi di belakang tangsi polisi Bekasi.
Usai dieksekusi, rencana semula, seluruh mayat tawanan akan dibuang ke kali Bekasi. Tetapi karena kali Bekasi sedang surut lalu mayatnya dikubur di belakang tangsi polisi yang lubang penguburannya telah disiapkan.
Marah pasukannya di eksekusi, pada tanggal 29 November 1945, tentara sekutu melakukan penyerangan ke Cakung, Pondok Ungu dan Kranji. Sekutu menggunakan tentara Punjab ke-1/16, Skuadron Kaveleri F.A.V.O ke-11, pasukan perintis ke-13, pasukan Resimen medan ke-37, detasemen kompi medan ke-69, dan dengan 50 truk, 5 meriam serta beberapa mortir dan kanon.
Pertempuran pertama pecah di Cakung, mengakibatkan jatuh korban pada kedua belah pihak, dari pihak Republik (pejuang kemerdekaan) sebanyak 13 orang gugur.
Pasukan sekutu kemudian terus merangsek masuk ke jantung wilayah Bekasi. Namun langkah mereka tertahan di Kampung Rawapasung. Mereka ditahan oleh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam TKR, Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Laskar Rakyat (LR) dan Pasukan Penack Silat (PS) lewat pertempuran yang sangat sengit.
Pasukan sekutu kesulitan menembus hadangan para pejuang kemerdekaan, mereka kewalahahan lalu mundur ke arah Pondok Ungu (saat ini wilayah Kelurahan Medan Satria).
Di sana, pasukan Hizbullah pimpinan KH Noer Ali dan dua regu pasukan TKR laut Pimpinan Mayor Madnuin Hasibuan sudah menunggu.Pertempuran mematikan pun akhirnya pecah, pasukan KH. Noer Ali yang hanya bermodalkan golok dan bambu runcing menyerang secara mendadak pasukan sekutu yang sebelumnya sudah dipukul mundur pejuang di Rawapasung.
Gema takbir dan gema bacaan Hizbun Nasr berkumandang bersamaan dengan langkah pasukan Hizbulloh yang dipimpin langsung oleh KH. Noer Alie. Pada awalnya, tentara sekutu terdesak oleh serangan mendadak pasukan Hizbulloh. Namun tidak sampai satu jam, tentara Sekutu yang bersenjata lengkap balik menyerang sehingga pasukan KH. Noer Alie terdesak sampai ke jembatan Sasak Kapuk. Untuk menghindari korban jiwa, KH. Noer Alie memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur.
Sebagian pasukan mundur, namun puluhan lainnya tetap bertahan di sasak kapuk. Saat itulah, tiba-tiba mortir dan meriam tentara sekutu menyalak membombardir para pejuang kita yang bertahan. Tidak dapat dihindari, akhirnya sekitar 30 pasukan Hizbullah gugur menjadi syuhada di medan laga pertempuran sasak kapuk.
Sedangkan KH. Noer Alie berhasil meloloskan diri dari terjangan peluru Sekutu dengan cara menceburkan diri ke kali Sasak Kapuk, sambil menyusuri kali sampai ke utara.
Dari kisah pertempuran Jembatan Sasak Kapuk ini, yang menarik untuk diketahui adalah rahasia pasukan Hizbullah pimpinan KH. Noer Alie yang tanpa rasa takut meski dengan persenjataan minim berani menghadapi tentara sekutu yang mempunyai persenjataan berat dan lengkap. Apa rahasianya?
Pasukan Hizbulloh yang dipimpin langsung oleh KH. Noer Alie ini, tak lain adalah santri-santrinya sendiri. Kepada santri-santrinya ini, KH. Noer Alie memerintahkan agar untuk sementara waktu berhenti belajar, diganti dengan berperang mengusir penjajah. Proses belajar mengajar akan dibuka kembali, “kelak bila perang selesai.”
Untuk membekali para santrinya dalam berperang, KH. Noer Alie menggembleng mereka yang berjumlah sekitar 200 orang di Masjid Ujungmalang dengan memerintahkan untuk berpuasa selama tujuh hari di Masjid. Selama berpuasa, mereka disuruh membaca doa Hizbun Nasr sampai hafal.Juga ditambah dengan membaca wirid, Ratibul Haddad, shalat tasbih, shalat hajat, dan shalat witir.
Jika sudah selesai dan dinyatakan lulus mereka diberi semacam ijazah yang disimbolkan dengan pemberian lempengan kaleng ukuran kecil berlatar belakang bendera merah putih dan bertuliskan kalimat La Ilaha Illa-Allah, Muhammad ar- Rasul- Allah.
Setiap usai penyematan ijazah, KH. Noer Alie berpesan kepada prajuritnya agar tidak bersikap sombong dan angkuh, terutama pada saat pertempuran. Ajaran, amalan-amalan dan wejangan dari sang ulama Betawi terkemuka “Singa Karawang-Bekasi”. inillah kunci keberanian Laskar Rakyat, para pejuang dan syuhada pertempuran Jembatan Sasak Kapuk.
Ahmad Zarkasi dari berbagai sumber