Sementara itu, Ketua MUI Jakarta, KH.Muhammad Faiz Syukron Makmun, atau biasa disapa Gus Faiz menambahkan, bicara tentang relasi agama budaya dikaitkan dengan peranan ulama singkatnya dulu saya belajar bahwa agama itu akan mewarnai budaya dan budaya itu akan memperkaya agama.
“Sebagai ketua umum saya kemudian berusaha memantaskan baik lahiriah dan mudah-mudahan batiniah,
itulah sejatinya relasi antara budaya dengan agama karena boleh jadi orang yang tidak memahami secara sederhana itu mungkin terjerumus kepada paradigma yang salah,” kata Gus Faiz.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh dan pemangku kepentingan, termasuk Ketua MUI DKI Jakarta KH Muhammad Faiz Syukron Makmun, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta Cecep Khairul Anwar ,Kolonel Inf Nanang Ariyanto yang mewakili Pangdam Jaya dan Kabaintelkam POLRI Irjen Pol. Drs. Syahardiantono, M.Si.
Selain itu, para nara sumber seperti Dr. H Marullah Matali, Lc, M.Ag, yang saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur DKI Jakarta (Bidang Budaya dan Pariwisata) Prof. Agus Suradika, MPD, dan KH. Nur Alam Bachtiar serta Yahya Andi Saputra Budayawan Betawi, juga turut memberikan materinya terkait pembangunan kebudayaan dan peran ulama dalam menjaga ketahanan budaya.
Lokakarya ini juga mengangkat topik mengenai status Jakarta pasca UU No. 2 Tahun 2024, yang akan dibahas dalam sesi kedua. Selain itu, akan ada presentasi dari Sigit Wijatmoko Aspem Prov. DKI Jakarta, Khaerudin, S.E. Pimpinan DPRD Prov. DKI dan H. Beky Mardani Ketua Umum LKB.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai peran ulama dalam membangun ketahanan budaya di Jakarta, serta merumuskan rencana strategis untuk pengembangan keagamaan dan kebudayaan di Jakarta. Dengan kolaborasi yang baik antara ulama, kebudayaan, dan pemerintah, diharapkan Jakarta dapat menjadi pusat budaya yang kuat dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045 nanti. (*/hel)
Komentar