Beranda
Seputar Publik / Berita

PTPN IV PalmCo Perkuat Ketertelusuran CPO, 67 PKS dan 124 Kebun Bersertifikasi RSPO

Selain menjaga mutu dan pasokan, PalmCo memperkuat transparansi asal-usul CPO untuk menjawab tuntutan keberlanjutan dan kebutuhan pasar global.
PTPN IV PalmCo memperkuat mutu, pasokan, dan ketertelusuran CPO sebagai bagian dari upaya memenuhi tuntutan pasar dan standar keberlanjutan global. PTPN IV PalmCo memperkuat mutu, pasokan, dan ketertelusuran CPO sebagai bagian dari upaya memenuhi tuntutan pasar dan standar keberlanjutan global.

Seputarpublik.com || JAKARTA – Persaingan industri kelapa sawit kini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam jumlah besar. Kepastian pasokan, konsistensi mutu, serta informasi mengenai asal-usul bahan baku semakin menjadi pertimbangan pembeli, terutama yang berkaitan dengan pasar global.

Perubahan kebutuhan tersebut mendorong produsen sawit memperkuat pengelolaan dari kebun hingga pabrik. Selain menjaga produktivitas, perusahaan juga dituntut mampu menunjukkan bahwa produk yang dipasarkan berasal dari rantai pasok yang dikelola dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Kondisi tersebut menjadi perhatian subholding PTPN III (Persero), PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo. Perusahaan menyatakan terus memperkuat konsistensi produksi sekaligus memperluas cakupan sertifikasi keberlanjutan sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan mitra bisnis.

Produksi CPO Capai Lebih dari 1,2 Juta Ton

Pada semester I-2026, PalmCo mencatat produksi CPO lebih dari 1,2 juta ton. Pada periode yang sama, tingkat rendemen CPO tercatat 23,47 persen, sedangkan rata-rata produktivitas CPO mencapai 2,18 ton per hektare.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan konsistensi mutu dan keandalan pasokan menjadi bagian penting dalam hubungan perusahaan dengan pelanggan yang mayoritas berasal dari segmen business to business (B2B).

«“Pelanggan di sektor industri membutuhkan jaminan bahwa bahan baku yang mereka serap diproduksi melalui tata kelola agronomi dan pabrik yang efisien,” kata Jatmiko, Sabtu (12/9/2026).»

Menurut Jatmiko, capaian produksi dan rendemen pada paruh pertama 2026 menjadi salah satu indikator kinerja operasional perusahaan. Stabilitas tersebut dinilai penting bagi industri pengguna CPO yang membutuhkan kepastian volume sekaligus spesifikasi bahan baku.

Namun, ukuran kualitas produk sawit kini semakin berkembang. Bagi pembeli, khususnya yang terhubung dengan pasar ekspor, pemenuhan spesifikasi teknis tidak selalu menjadi satu-satunya pertimbangan.

Informasi mengenai sumber bahan baku dan proses produksi semakin menjadi bagian dari persyaratan rantai pasok.

Ketertelusuran CPO Semakin Penting

Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV PalmCo Rury C. Baskoro mengatakan transparansi dan ketertelusuran atau traceability menjadi aspek yang semakin penting dalam memenuhi kebutuhan pembeli.

«“Transparansi dan ketertelusuran adalah hak pelanggan yang wajib kami penuhi,” ujar Rury.»

Hingga semester I-2026, sebanyak 67 pabrik kelapa sawit (PKS) dan 124 kebun yang dikelola PalmCo telah memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Sertifikasi tersebut menjadi salah satu instrumen yang digunakan pelaku industri untuk menunjukkan penerapan standar produksi sawit berkelanjutan. Aspek yang diperhatikan antara lain pengelolaan lingkungan, kondisi kerja, serta hubungan dengan masyarakat di sekitar kegiatan perkebunan.

Bagi produsen sawit, penguatan aspek tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya tuntutan pasar terhadap penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG).

Perkuat Posisi di Pasar

Rury mengatakan cakupan sertifikasi yang dimiliki perusahaan diharapkan dapat memperkuat posisi produk PalmCo ketika berhadapan dengan pembeli yang menerapkan persyaratan keberlanjutan dalam rantai pasok.

Dengan demikian, persaingan produsen sawit tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak CPO yang dapat diproduksi.

Kemampuan menjaga mutu, menjamin kontinuitas pasokan, serta menyediakan informasi mengenai asal-usul dan proses produksi komoditas tersebut menjadi aspek yang semakin penting dalam mempertahankan akses ke pasar.

Momentum Hari Pelanggan Nasional pada September juga menjadi pengingat bahwa kebutuhan pelanggan terus berkembang.

Bagi produsen sawit, pelayanan kepada pelanggan tidak berhenti ketika CPO dikirimkan, tetapi juga mencakup kemampuan memastikan produk memenuhi spesifikasi serta persyaratan rantai pasok yang semakin kompleks, termasuk aspek transparansi dan keberlanjutan.(Red.)*