Seputarpublik.com || JAKARTA — Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) menggelar diskusi kebangsaan dalam rangka refleksi 81 tahun Indonesia merdeka. Forum tersebut menyoroti berbagai persoalan yang dinilai menjadi perhatian masyarakat sekaligus membahas arah dan masa depan bangsa di tengah dinamika kebangsaan saat ini. Diskusi digelar di Jakarta pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber dan peserta menilai refleksi kritis terhadap perjalanan bangsa penting dilakukan untuk melihat kembali berbagai cita-cita kemerdekaan serta kondisi masyarakat saat ini.
Salah satu pandangan disampaikan A.R. Loebis, yang menilai momentum peringatan kemerdekaan perlu dimanfaatkan untuk kembali mendalami pemikiran para pendiri bangsa sekaligus menggelorakan semangat nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda.
Ia menegaskan bahwa keberadaan FWK dalam forum tersebut bukan untuk membahas figur atau individu tertentu, melainkan membicarakan arah dan masa depan bangsa Indonesia.
Soroti Kinerja Pembantu Presiden
Dalam diskusi tersebut, mantan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun menyampaikan pandangan kritis mengenai kinerja lingkaran terdekat Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Hendry, sejumlah pembantu presiden dinilainya masih minim pengalaman dalam menjalankan tugas kenegaraan. Ia berpandangan kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian pembantu presiden lebih berorientasi pada upaya menyenangkan atasan dibandingkan menjalankan tugas dengan perspektif kenegaraan yang matang.
Pandangan tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian karena apabila pengelolaan pemerintahan dinilai kurang kompeten, kondisi itu berpotensi memunculkan sikap apatis di tengah masyarakat.
Pandangan tersebut merupakan pendapat yang disampaikan dalam forum diskusi dan bukan kesimpulan atau penilaian resmi terhadap kinerja pemerintah.
Kemerdekaan dan Kesejahteraan Rakyat
Diskusi juga membahas refleksi terhadap makna kemerdekaan yang telah berlangsung selama 81 tahun.
Sejumlah peserta menyoroti pandangan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka sebagai sebuah negara, pemenuhan cita-cita kemerdekaan dalam bentuk kesejahteraan dan kehidupan yang layak bagi seluruh masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah.
Dalam forum tersebut, peserta juga membahas berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat, antara lain pelaksanaan sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Selain itu, peserta menyoroti persoalan penegakan hukum, kondisi ketenagakerjaan, pemutusan hubungan kerja (PHK), pengangguran, pendapatan masyarakat, serta kecenderungan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Berbagai persoalan tersebut menjadi bagian dari refleksi peserta dalam melihat kondisi masyarakat sekaligus tantangan yang dihadapi Indonesia memasuki usia 81 tahun kemerdekaan.
Dorong Pemerintah Lebih Responsif
Melalui diskusi tersebut, FWK mendorong pemerintah agar semakin peka terhadap berbagai keresahan yang berkembang di tengah masyarakat.
Kritik dan masukan yang muncul dalam forum dipandang sebagai bagian dari ruang dialog kebangsaan untuk memberikan perhatian terhadap persoalan yang dirasakan masyarakat sekaligus mencari jalan keluar secara konstruktif.
Refleksi kemerdekaan, menurut forum tersebut, tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan Indonesia dan memperkuat komitmen terhadap tujuan bernegara.
Diskusi kebangsaan FWK tersebut dihadiri sejumlah insan pers, di antaranya Pemimpin Redaksi VOI Iqbal Irsyad, mantan Sekretaris Redaksi Kompas M. Nasir, wartawan senior Budi Nugraha, Tatang Suherman, Sigit Setiono, Herwan Pebriansyah, Rudi Sitompul, Elwan Charisma, Fajar Ridwan Rahmat, Junie Rakhmat, Mukhsin, serta sejumlah peserta lainnya.
Forum berharap ruang diskusi kebangsaan semacam ini dapat terus menjadi wadah bagi insan pers untuk menyampaikan pandangan, kritik, dan gagasan secara konstruktif dalam rangka menjaga demokrasi sekaligus mendorong kemajuan bangsa.(Red)*