“Pengendalian tidak hanya dilakukan dengan menekan patogen, tetapi juga dengan memperkuat kondisi tanaman. Pemantauan berkala dan aplikasi nutrisi yang tepat kami gunakan untuk mempercepat pembentukan daun baru sehingga fungsi tajuk dapat kembali optimal,” tambah Tri Rapani.
Kebun Percobaan Jadi Basis Pengembangan Solusi
Kepala Pusat Penelitian Karet, Dr. Suroso Rahutomo, menegaskan pengendalian di Kebun Percobaan Sungei Putih merupakan bagian dari peran RPN dalam menghasilkan solusi berbasis riset untuk menjawab tantangan di lapangan.
“Penerapan standar Pengendalian Hama Terpadu ini tidak hanya bertujuan mengamankan tanaman di Kebun Percobaan Sungei Putih, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kami menghasilkan rekomendasi teknis yang dapat diterapkan oleh petani dan pengelola perkebunan karet di Sumatera Utara maupun di wilayah lainnya,” jelas Suroso.
Menurut Suroso, kebun percobaan memiliki posisi strategis sebagai tempat untuk menguji sekaligus menyempurnakan berbagai pendekatan pengendalian sebelum dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas.
Dengan dukungan penelitian dan pemantauan lapangan yang konsisten, RPN terus berupaya memastikan setiap solusi yang dihasilkan memiliki dasar ilmiah serta relevan dengan kebutuhan pekebun dan pengelola perkebunan.
Melalui Pusat Penelitian Karet, RPN juga memperkuat fungsi riset, pengujian, dan pendampingan teknis untuk menghasilkan inovasi yang mampu menjawab tantangan nyata di sektor perkebunan.
Pengendalian Pestalotiopsis di Kebun Percobaan Sungei Putih diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan penyakit di satu lokasi, tetapi juga dapat menjadi model pembelajaran dan sumber rekomendasi teknis bagi pengelolaan kesehatan tanaman karet secara lebih luas.
Melalui sinergi antara peneliti, tenaga teknis, pekebun, dan para pemangku kepentingan, RPN optimistis produktivitas serta keberlanjutan komoditas karet Indonesia dapat terus dijaga dan ditingkatkan.(Adv)*
Komentar