Madukara menilai, Abah Anton sebagai figur yang memiliki rekam jejak panjang dan konsisten, dalam pelestarian budaya, khususnya budaya Sunda, sejak Ia aktif sebagai perwira Polri hingga purna tugas. Semasa menjabat Kapolwil Priangan (2008) hingga Kapolda Jawa Barat (2016–2017), Abah Anton dikenal aktif menggagas dan mendukung berbagai program budaya dan perlindungan berbagai situs sejarah.
Sejumlah karya dan program budaya yang pernah digagas Abah Anton antara lain:
- Pendirian Tugu Kujang Pusaka setinggi 15 meter di Kampung Adat Naga, Tasikmalaya.
- Penggagas Gong Perdamaian Dunia di Karangkamulyan, Ciamis.
- Penerapan Aksara Sunda Kaganga pada papan nama satuan kepolisian di wilayah Priangan.
- Pembinaan kampung adat Naga, Dukuh, dan Kuta.
- Pendirian Padepokan dan Museum Pasulukan Lokaganda Sasmita di Garut.
- Pengamanan dan perlindungan berbagai situs sejarah dan museum di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
- Pembangunan Museum Galunggung di Tasikmalaya.
- Penyusunan pedoman penulisan Aksara Sunda Kaganga serta pelatihan bagi guru SD dan SMP.
- Penerbitan sejumlah buku tentang sejarah dan budaya Sunda.
Madukara menyebut, anugerah ini diberikan melalui proses kajian mendalam dan bukan semata karena jabatan atau pangkat, melainkan atas dasar kontribusi nyata terhadap pelestarian seni, budaya, dan sejarah Nusantara.
Ucapan Terima Kasih
Dalam keterangannya kepada media, Abah Anton menyampaikan apresiasinya atas penghargaan yang diterimanya.
“Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Madukara dan Keraton Amarta Bumi atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Semoga ke depan saya dapat terus mengabdikan diri dalam pelestarian seni dan budaya Nusantara,” ujarnya.
Acara tersebut turut dihadiri Rd Dicky Sastra dikusuma dari Sukapura, Kombes Dinar dari BNN Banten, unsur Forkopimda Kendal dan Semarang, juga perwakilan trah Keraton Surakarta, Yogyakarta, serta Keraton Sumenep Madura. Prosesi berlangsung khidmat dalam suasana penuh kekeluargaan. [Red]
Komentar