Seputarpublik, Jakarta – Banyak masyarakat, bahkan para pejabat Indonesia belum mengetahui, tentang bagaimana asal mula mata uang Republik Indonesia rupiah tercetak di negeri ini.
Banyak orang mengira pada masa awal pembangunan negeri kita, yakni pada masa pemerintahan Presiden Pertama RI Ir. Seokarno 1958 – 1962 seluruh biaya pembangunan didapat dari hasil pinjaman lunak luar negeri.
Dalam Buku Super Semar Pasal 2 halaman 2, di jelaskan, sesungguhnya terkait pembangunan pada masa itu, negara kita tidak pernah berhutang dengan negara manapun, bahkan Presiden Soekarno pada waktu itu sudah memproklamirkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang berdikari dalam menyejahterakan dan seluruh rakyatnya.
Dalam Buku Wasiat Super Semar pasal 2 halaman 02 dijelaskan,
B.K.B, Mister KUT kala itu diperintahkan oleh Sanghiang Cupu Negoro untuk pulang dari Bahama Amerika latin ke Indonesia untuk menjalankan seluruh pasal 11 negara (11 pasal) 11 Maret, untuk menyerahkan ke B.K.B I (Bung Karno) barang 55 berupa kertas DINAR UBCN.
BKBI – RI 1 memberi berupa kertas DINAR berupa CN kepada RI 1, yang berupa kertas pasti dan jelas dengan nama AJINERE 1001 sebanyak menurut perhitungan pada waktu itu sebesar 7.000.000 biliun DINAR CN UBCN, 1.000.000 biliun Dinar CN di cetak menjadi Rupiah pertama dengan gambar SERIMPI pertama, yang di gambar di kebun tebunya Tuan IN di Banyuwangi, setelah itu dibawa kembali ke Bali menjadi SERIMPI Indonesia 1.
Setelah itu Dunia menyerahkan Rupiah sebagai pengganti ORI oleh VAINET Jepang. Lewat Rupiah tersebut
BKBI – RI 1 membangun 3 istana,yaitu ;
1. Istana Negara Jayakarta (ibukota negara Indonesia)
2. Istana Pakuan Bogor
3. Istana antara Mataram dan Majapahit di puncak pangrango (Cipanas),
Selain itu Soekarno juga membangun ruas jalan raya Jakarta – Serang, Cibinong – Bogor lewat daerah puncak Sukabumi Cianjur, Raja Mandala – Prapatan Purwakarta dengan menghabiskan biaya sebesar 25 biliun rupiah. Lalu biaya membangun halaman Hotel Indonesia, Hotel Amborukmo Yogyakarta, Bali beach hotel, Samudera Beach hotel, serta membangun gelora SENAYAN dan sembilan pintu gerbang Ampera menghabiskan biaya sebesar 10 biliun rupiah, serta membangun kota di 27 propinsi, membangun gedung gedung kota, kabupaten, kecamatan sampai ke desa desa menghabiskan dana keseluruhannya sejumlah 100 biliun rupiah. Lalu mencetak lagi sebanyak 100 biliun rupiah.
Demikian isi dari buku wasiat super Semar pasal 2 halaman 02, sejarah yang menggambarkan betapa hebatnya Indonesia saat ini, jika saja pada masa itu tidak ada rongrongan dan permainan politik untuk suatu ambisi kekuasaan dan keserakahan, tentunya KERTAS AJINERE akan menjadikan kemakmuran kemerdekaan bagi seluruh rakyat di tanah air tercinta Indonesia.
(Bersambung)