Seputarpublik.com, JAKARTA — Tradisi penjualan ikan bandeng menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, dinilai memiliki nilai strategis bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai potensi penguatan sektor pariwisata Ibu Kota.
Penilaian tersebut disampaikan Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi (MKB), Dr. Ing. H. Fauzi Bowo, saat menghadiri diskusi budaya bertajuk Ngopi Bandeng di Bale Kopi Baba, Duri Kosambi, Cengkareng, Sabtu (31/1/2026). Fauzi Bowo yang akrab disapa Bang Foke itu juga merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012.
Diskusi tersebut dihadiri tokoh Betawi, akademisi, pegiat budaya, serta perwakilan DPRD DKI Jakarta, dengan fokus pada pelestarian tradisi Bandeng Rawa Belong yang rutin digelar menjelangImlek.
Simbol Harmoni Budaya Jakarta
Menurut Bang Foke, tradisi perdagangan bandeng di Rawa Belong telah berlangsung puluhan tahun dan menjadi fenomena sosial yang unik di Jakarta. Meski berkaitan erat dengan perayaan Imlek, aktivitas tersebut justru diramaikan oleh masyarakat Betawi.
> “Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Betawi sejak lama hidup berdampingan dan berinteraksi secara harmonis dengan berbagai budaya di Jakarta,” ujar Bang Foke.
Ia menjelaskan, ikan bandeng memiliki makna filosofis penting dalam budaya Tionghoa, antara lain melambangkan kerja keras, keberuntungan, serta ketangguhan menghadapi tantangan. Nilai tersebut kemudian diterima dan diadaptasi masyarakat Betawi.
Seiring waktu, bandeng tak hanya menjadi simbol Imlek, tetapi juga bagian dari tradisi silaturahmi masyarakat Betawi, terutama sebagai hantaran kepada keluarga dan kerabat.
> “Bandeng Imlek menjadi kebiasaan masyarakat Betawi. Ini bukti nyata proses akulturasi budaya yang tumbuh alami di Jakarta,” tambahnya.
Didorong Jadi Festival Budaya Tahunan
Bang Foke menilai tradisi Bandeng Rawa Belong mencerminkan nilai toleransi, keterbukaan, dan kebersamaan yang menjadi karakter masyarakat Betawi. Karena itu, ia mendorong tradisi ini dikembangkan dalam bentuk festival budaya berkelanjutan.
> “Kalau dikemas dengan baik, festival bandeng ini bisa menjadi etalase budaya sekaligus daya tarik wisata Jakarta,” tegasnya.
Dukungan terhadap penyelenggaraan Festival Bandeng Rawa Belong 2026 juga datang dari Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Mpo Afni Sajim. Ia menyatakan DPRD bersama Pemprov DKI mendukung penuh festival yang dijadwalkan berlangsung pada 15–16 Februari 2026.
> “Festival Bandeng Rawa Belong bukan sekadar acara budaya, tetapi juga berpotensi besar sebagai magnet pariwisata Jakarta,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Bamus Suku Betawi 1982, Zaenudin atau Bang Haji Oding, menilai pendekatan festival akan memperluas promosi budaya Betawi di era digital.
> “Tradisi ini sangat khas, hanya ada menjelang Imlek dan hanya di Rawa Belong. Festival membuatnya lebih dikenal masyarakat luas,” katanya.
Ia pun mengajak warga Jakarta hadir langsung dalam festival tersebut. Selain berburu ikan bandeng berukuran besar, pengunjung akan disuguhkan beragam pertunjukan seni dan budaya Betawi.
> “Ini menunjukkan masyarakat Betawi terbuka dan mampu merawat keberagaman budaya Jakarta,” tutup Haji Oding. (*/Hel)*