Seputarpublik.com || JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak masyarakat untuk memahami lebih dalam mengenai fenomena El Nino, yang selama ini kerap dikaitkan dengan musim kemarau di Indonesia. Melalui unggahan edukatif di media sosial resminya, BMKG menjelaskan sejumlah fakta penting agar masyarakat tidak salah memahami fenomena iklim global tersebut.
BMKG menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Kondisi ini menyebabkan pusat pembentukan awan hujan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia sehingga curah hujan di sejumlah daerah dapat berkurang.
Salah satu kesalahpahaman yang masih banyak ditemui di masyarakat adalah anggapan bahwa setiap musim kemarau selalu disebabkan oleh El Nino. BMKG menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat. Fenomena El Nino tidak terjadi setiap tahun, melainkan muncul secara berkala dengan interval sekitar 2 hingga 7 tahun sekali.
Istilah El Nino sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "anak laki-laki". Nama tersebut diberikan oleh para nelayan di Peru karena fenomena ini umumnya muncul menjelang perayaan Natal.
Dalam sejarah pengamatan iklim, BMKG mencatat beberapa kejadian El Nino kuat, antara lain pada tahun 1982, 1997, 2015, dan 2023. Pada periode tersebut, curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua mengalami penurunan sehingga musim kemarau berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa El Nino kuat tidak selalu berarti seluruh wilayah Indonesia mengalami kekeringan parah. Tingkat dampak yang dirasakan setiap daerah dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi klimatologis, karakteristik wilayah, serta ketersediaan sumber daya air.
Karena itu, BMKG terus memantau perkembangan kondisi iklim secara berkala untuk memberikan informasi dan peringatan dini kepada pemerintah maupun masyarakat sebagai dasar dalam melakukan langkah mitigasi dan antisipasi terhadap potensi dampak yang mungkin terjadi.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar memperoleh informasi cuaca dan iklim hanya melalui kanal resmi BMKG sehingga mendapatkan informasi yang akurat, terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan materi edukasi yang dipublikasikan melalui kanal resmi BMKG. Kondisi iklim bersifat dinamis dan masyarakat diimbau mengikuti pembaruan informasi resmi dari BMKG.(Rend')*