Dalam situasi darurat pascabencana, peran kawasan perkebunan dinilai semakin nyata. Sejak hari pertama bencana, area perkebunan dimanfaatkan sebagai lokasi perlindungan sementara, pusat logistik, dapur umum, hingga ruang pendampingan sosial bagi warga terdampak.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkab Tapanuli Selatan bersama para pemangku kepentingan telah menyiapkan lahan relokasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Hingga Januari 2026, sekitar 30 hektare lahan telah dialokasikan, meliputi 20 hektare di Batangtoru, 5 hektare di Hapesong Baru, serta 5 hektare di Afdeling I Kebun Hapesong.
Di Hapesong Baru, pembangunan 227 unit hunian tetap telah mencapai progres sekitar 30 persen. Pemerintah daerah menargetkan percepatan penyelesaian agar masyarakat segera menempati hunian yang aman dan layak.
Gus Irawan menekankan, pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk itu, Pemkab menyiapkan program pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, serta penguatan kemandirian warga di lokasi relokasi.
Pendekatan kolaboratif yang dijalankan, lanjutnya, mencerminkan nilai kearifan lokal Dalihan Na Tolu, di mana pemerintah, masyarakat, dan seluruh unsur pendukung saling menguatkan dalam menghadapi musibah.
> “Pemulihan ini adalah kerja bersama. Tujuannya bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi membangun kembali harapan dan kemandirian masyarakat,” tegasnya.
Bencana yang berdampak pada 13 kecamatan di Tapanuli Selatan menjadi momentum evaluasi dan penguatan ketahanan daerah. Pemkab berkomitmen memastikan seluruh proses pemulihan berjalan berkelanjutan, inklusif, serta berpihak pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan sejarah panjangnya, Kebun Batangtoru dinilai tetap menjadi salah satu pilar penting kehidupan masyarakat Tapanuli Selatan, sekaligus bagian dari upaya mem
bangun masa depan daerah yang lebih tangguh dan berdaya. [Red]
Komentar