Menurut para tokoh tersebut, Papua membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada aspek teknokrasi, tetapi juga mampu mengakomodasi nilai budaya dan karakter masyarakat setempat.
Ketua Analisis Papua Strategis (APS) sekaligus akademisi Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih, Laus Rumayom, mengatakan bahwa pembangunan Papua memerlukan strategi yang inovatif dan menyentuh akar budaya masyarakat.
> “Pembangunan di Papua tidak cukup hanya menggunakan pendekatan keamanan maupun teknokrasi, tetapi juga perlu memperhatikan nilai etnosains dan kebijaksanaan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Laus Rumayom.
Ia menambahkan, APS menilai konsistensi Dedi Mulyadi dalam menjaga dan mengembangkan budaya lokal di Jawa Barat dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan di Papua.
Menurutnya, pendekatan berbasis budaya berpotensi menjadi model dalam merumuskan strategi percepatan pembangunan di enam provinsi dan tujuh wilayah adat di Papua.
Sementara itu, Dedi Mulyadi menyambut undangan tersebut dengan rendah hati. Ia mengaku masih banyak hal yang perlu dipelajari mengenai Papua.
> “Saya ini hanya gubernur kampung, gubernur konten,” ujar Dedi sambil berseloroh.
Namun demikian, sejumlah tokoh Papua justru menilai kesederhanaan dan kedekatan Dedi dengan masyarakat sebagai salah satu kekuatan kepemimpinannya. Mereka menilai berbagai kebijakan yang dijalankan di Jawa Barat dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam membangun wilayah yang tetap berpijak pada budaya lokal dan kebutuhan masyarakat.
Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pembangunan Papua yang inklusif, berkelanjutan, serta selaras dengan identitas dan kearifan lokal masyarakat Papua.(Red)*
Komentar