Seputarpublik.com,JAKARTA — Upaya percepatan hilirisasi komoditas gambir nasional terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan PTPN IV PalmCo, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), tengah merumuskan langkah strategis untuk mengoptimalkan komoditas yang menguasai sekitar 80 persen pasar dunia tersebut.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci agar nilai tambah gambir tidak lagi didominasi negara pengimpor. Ia mendorong BUMN perkebunan mengambil peran utama dalam membangun ekosistem industri pengolahan di dalam negeri.
“PTPN kita dorong menjadi lokomotif hilirisasi,” tegasnya.
Pemerintah juga mempercepat realisasi proyek strategis di sektor perkebunan. Sekitar 35 proyek direncanakan untuk segera masuk tahap groundbreaking guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Dukungan serupa disampaikan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi. Ia menyebut tren ekspor gambir menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir.
“Pada 2024 ekspor gambir mencapai 13.482 ton dengan nilai Rp574,7 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Terkait rencana pembangunan fasilitas pengolahan, ia menjelaskan bahwa pengelolaan akan dilakukan oleh PTPN IV PalmCo, dengan lokasi yang diproyeksikan berada di sentra produksi gambir nasional, yakni Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Pendekatan Berbasis Riset
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan kesiapan perusahaan dalam mendukung hilirisasi sebagai bagian dari strategi peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan.
Menurutnya, gambir memiliki potensi luas sebagai bahan baku berbagai industri, mulai dari pangan hingga kosmetik dan kebutuhan industri lainnya.
“Gambir bisa menjadi bahan teh, kosmetik, hingga tinta industri. Potensinya sangat besar,” ungkapnya.
Meski demikian, perusahaan menekankan pentingnya pendekatan bisnis yang terukur. Saat ini, PTPN IV PalmCo tengah bekerja sama dengan Universitas Andalas dalam penyusunan studi kelayakan untuk memastikan arah investasi tepat sasaran.
“Kita tidak bisa membangun pabrik tanpa melihat pasar. Produk yang memiliki permintaan kuat harus menjadi prioritas,” tegas Jatmiko.
Fokus Hulu hingga Hilir
Seiring proses kajian, perusahaan juga memperkuat sektor hulu dengan mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas gambir petani rakyat. Pendekatan ini diharapkan mampu membuka akses pasar baru sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Sinergi antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), serta kalangan akademisi diharapkan dapat mentransformasi industri gambir nasional secara menyeluruh.
Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok gambir global berbasis nilai tambah tinggi.(Adv)*