“Model kerja samanya adalah KSU atau kerja sama usaha. Kami menyediakan lahan, sedangkan teknis budidaya, pembiayaan, dan varietas yang akan ditanam menjadi kewenangan investor. Yang pasti, lahan ini kami siapkan untuk mendukung program kemandirian energi nasional,” ujarnya.
Usai pemaparan program, potensi lahan, serta model kerja sama yang ditawarkan, para investor menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi diskusi. Program pengembangan etanol berbasis singkong dinilai mampu memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kami menyambut baik program ini. Baru beberapa bulan terakhir harga singkong membaik hingga mencapai Rp2.000 per kilogram. Dengan adanya program ketahanan energi ini, kami berharap harga tetap stabil sehingga petani singkong dapat semakin sejahtera,” kata Jamsari, salah satu pengurus kelompok tani yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Melalui inisiatif ini, Holding Perkebunan Nusantara menegaskan komitmennya dalam mendukung program strategis pemerintah di bidang ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong hilirisasi komoditas pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekosistem industri etanol berbasis singkong yang berkelanjutan.(Adv)*
Komentar