“Kemarau panjang membawa efek domino, mulai dari kekeringan tanah, ledakan hama, hingga penurunan rendemen. Ini harus diantisipasi secara menyeluruh,” kata Jatmiko.
Perhatian khusus diberikan pada tanaman belum menghasilkan (TBM) yang lebih rentan terhadap stres air karena sistem perakaran yang belum optimal.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, PalmCo menerapkan strategi agronomi adaptif, termasuk pengelolaan kelembapan tanah serta tata kelola air yang lebih efisien.
“Fokus kami menjaga kondisi tanaman tetap optimal, terutama tanaman muda, serta memastikan siklus produksi tidak terganggu di tengah tekanan iklim,” ujarnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, PalmCo berharap dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan sosial yang kerap menyertai musim kemarau panjang.(red)*
Komentar