Seputarpublik.com, JAKARTA – Beberapa tahun lalu, saat berkesempatan sowan kepada Ibu Hoegeng, ada satu pesan singkat yang beliau sampaikan: “Titip Polri.” Kalimat itu sederhana, tetapi sarat makna. Saat itu saya terkejut sekaligus bingung. Rasanya tidak pantas langsung bertanya lebih jauh. Saya hanya mampu menjawab spontan, “Siap, Ibu.”
Dalam hati muncul pergulatan: siapakah saya, apa yang bisa saya lakukan hingga mendapat pesan seberat itu? Waktu berlalu, namun pesan tersebut terus terngiang. Beberapa kali saya menonton kembali rekaman wawancara dengan Ibu Hoegeng, merenungkan maksud yang tersirat di balik kalimat singkat itu.
Suatu Minggu pagi, sebelum mengikuti misa di Gereja St. Albertus Agung Jetis, pesan tersebut kembali terlintas dalam doa dan perenungan. Saat itulah saya seperti menemukan maknanya. Polri yang dimaksud bukan sekadar institusi dalam arti bangunan, jabatan, atau kewenangan. Yang dititipkan adalah nama baik dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri.
Komentar