> “Menyerap hasil panen petani hari ini adalah solusi jangka pendek. Namun untuk memastikan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang, produktivitas kebun harus terus dijaga melalui edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan,” ujar Arya.
Sepanjang tahun 2025, PTPN IV PalmCo telah melakukan pendampingan PSR terhadap lahan seluas 23.188 hektare. Program tersebut berlanjut pada tahun 2026, di mana hingga Mei telah mencakup 6.380 hektare lahan petani.
Pendampingan tidak hanya mencakup aspek legalitas dan teknis, tetapi juga mencakup akses kemitraan dan offtaker hasil produksi. Petani mendapatkan pembinaan mulai dari pemilihan bibit unggul bersertifikat, persiapan lahan, hingga perawatan tanaman pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).
Arya menegaskan bahwa investasi pengetahuan sejak awal masa tanam sangat menentukan hasil produksi dalam jangka panjang.
> “Petani perlu memahami bahwa kualitas perawatan di fase awal akan sangat menentukan produktivitas kebun dalam belasan tahun ke depan. Kami ingin kebun yang diremajakan saat ini menjadi sumber penghidupan yang lebih baik bagi keluarga petani di masa mendatang,” tegasnya.
Membangun Ekosistem Sawit Berkelanjutan
PTPN IV PalmCo menilai bahwa keberhasilan sektor sawit rakyat memerlukan sinergi yang kuat antara aspek hulu dan hilir. Melalui pendampingan agronomi yang intensif serta jaminan penyerapan hasil panen melalui PKS perusahaan, diharapkan tercipta ekosistem perkebunan kelapa sawit yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan.
Momentum Hari Krida Pertanian 2026 menjadi bukti bahwa peningkatan kesejahteraan petani dapat diwujudkan melalui kolaborasi, edukasi, dan kepastian pasar yang berkesinambungan, sehingga sektor perkebunan kelapa sawit terus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional maupun daerah.(Red)*
Komentar