Beranda
Seputar Publik / Berita

Hasil DNA Ungkap Identitas Jenazah di Enggano, Ternyata ABK KM Arupadatu 1

Surakman teridentifikasi melalui pencocokan DNA dengan putra kandungnya setelah jenazah tanpa identitas ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu.
Hasil pemeriksaan DNA memastikan jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, merupakan Surakman, salah satu kru KM Arupadatu 1 yang hilang kontak bersama lima jurnalis dan dua kru lainnya di perairan Selat Sunda. Hasil pemeriksaan DNA memastikan jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, merupakan Surakman, salah satu kru KM Arupadatu 1 yang hilang kontak bersama lima jurnalis dan dua kru lainnya di perairan Selat Sunda.

Seputarpublik.com || JAKARTA — Misteri hilangnya KM Arupadatu 1 yang membawa lima jurnalis untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai menemukan titik terang.

Jenazah pria tanpa identitas yang ditemukan di perairan Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, pada 12 September 2026, telah dipastikan merupakan salah satu kru kapal tersebut.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan, jenazah tersebut teridentifikasi sebagai Surakman, salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu 1. Kepastian identitas diperoleh melalui pemeriksaan dan pencocokan DNA oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri.

Kepastian tersebut disampaikan Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten, Rabu (23/9/2026).

Jenazah sebelumnya ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Saat ditemukan, jenazah diketahui mengenakan celana pendek berwarna hitam, memiliki tinggi sekitar 163 sentimeter, dan diperkirakan berusia sekitar 50 tahun.

Setelah menerima informasi mengenai penemuan jenazah tersebut, Polda Banten berkoordinasi dengan Polda Bengkulu. Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani pemeriksaan dan proses identifikasi lebih lanjut.

Tim DVI selanjutnya mencocokkan data antemortem dari keluarga delapan orang yang berada dalam rombongan KM Arupadatu 1 dengan data postmortem jenazah tanpa identitas.

Proses identifikasi mencakup sejumlah data primer, antara lain sidik jari, pemeriksaan gigi, serta DNA. Karena kondisi jenazah sulit dikenali secara visual, pemeriksaan DNA menjadi bagian penting dalam memastikan identitas korban.

DNA Cocok dengan Putra Kandung

Untuk memastikan identitas jenazah, Tim DVI Pusdokkes Polri melakukan pemeriksaan genetik dengan membandingkan sampel DNA jenazah dengan data keluarga korban.

Hasil pemeriksaan memastikan jenazah dengan kode PM/62/P.Enggano/01 secara genetik teridentifikasi sebagai Surakman, ABK KM Arupadatu 1. Identifikasi tersebut diperoleh melalui kecocokan hubungan biologis dengan Yayat, putra kandung korban.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal," ujar Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Dengan hasil identifikasi tersebut, satu dari delapan orang yang berada di KM Arupadatu 1 saat kapal tersebut hilang kontak kini telah diketahui identitasnya.

KM Arupadatu 1 sebelumnya membawa lima jurnalis dan tiga kru kapal untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026. Kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kapal dan Tujuh Orang Lainnya Masih Belum Ditemukan

KM Arupadatu 1 dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026. Operasi pencarian dan pertolongan kemudian dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Namun, hingga Rabu (23/9/2026), posisi kapal KM Arupadatu 1 masih belum ditemukan. Kapolda Banten menyebut satu kru telah berhasil diidentifikasi melalui hasil pemeriksaan DNA, sementara tujuh orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya.

Penemuan jenazah di Pulau Enggano menjadi salah satu petunjuk dalam upaya mengungkap keberadaan rombongan yang hilang tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, Surakman menjadi satu-satunya korban dari delapan orang dalam rombongan KM Arupadatu 1 yang telah berhasil diidentifikasi melalui pemeriksaan DNA.(*/hel).