Kemudian, sembari mempersiapkan diri anak untuk kembali ke sekolah, orang tua bisa mulai melibatkan mereka menyiapkan keperluan mereka seperti seragam, membuat jadwal bekal atau camilan untuk dibawa ke sekolah, mengikutsertakan anak dalam pembelanjaan, dan memeriksa perbekalan sekolah yang perlu diganti atau dibeli.
Khusus untuk anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) dan awal sekolah dasar (SD), misalnya, kelas satu hingga tiga, orang tua dapat mengajak anak membuat cerita pendek bergambar mengenai liburannya untuk diceritakan pada teman-teman atau guru. Hal ini dapat membantu anak mempersiapkan diri untuk kembali pada rutinitas.
Aksn tetapi, apabila anak terlihat enggan untuk kembali ke sekolah atau kembali ke rutinitasnya usai liburan, orang tua perlu merespons dulu emosi anak yang terlihat. Anak mungkin merasa sedih karena liburannya berakhir, atau ini artinya tidak bertemu dengan kakek-nenek atau saudara lagi dan meninggalkan kota liburan yang meninggalkan kesan mendalam bagi anak.
Dalam menghadapi ini, orang tua diharapkan memvalidasi emosi anak , misalnya, dengan bertanya pada anak, “Kamu masih ingin di sini (tempat liburan), ya? Kamu happy banget di sini, ya”. Setelah itu, ajak anak membuat dokumentasi seperti dalam bentuk scrapbook memory atau gambar yang berkesan bagi anak. Hal ini akan membantu anak belajar mengungkapkan emosi yang dirasakan baik emosi positif atau negatif.
Cara ini sebenarnya bisa juga dilakukan pada orang dewasa, termasuk apabila memiliki bakat artistik, misalnya, dengan melukis atau menggambar tempat yang dikunjungi selama liburan.
Orang-orang mungkin menemukan bahwa mendokumentasikan perjalanan mereka dalam jurnal, lembar memo, atau membuat album foto, dapat membantu mereka mengatasi emosi negatif setelah liburan. Sebuah studi tahun 2020 menemukan bahwa peserta yang membuat scrapbook untuk mengabadikan kenangan mendapatkan kenyamanan psikologis.
Feka mengatakan pada anak yang terlihat enggan kembali ke sekolah, bisa jadi ada hal yang membuatnya tidak nyaman kembali ke sekolah. Orang tua perlu melakukan pendekatan terkait dengan topik ini dan mendengarkan dulu keluhan anak terkait sekolah, teman, guru sebelum akhirnya memberikan saran atau nasihat.
“Anak perlu didengarkan oleh orang tua dan orang tua perlu belajar mendengarkan anak tanpa langsung memberikan saran atau kalimat penyemangat,” kata dia.
Komentar