KOI, sebut Sekjen Wijaya, berharap tuntasnya masalah dan hadirnya kepengurusan baru akan menjadi lembaran baru juga untuk prestasi sepak takraw Indonesia. Namun pekerjaan KOI bersama KONI masih belum usai, lantaran masih ada tiga cabor lagi yaitu tenis meja, anggar, dan tinju yang mencatat dualisme kepengurusan.
“Tentu tidak berhenti di sini, kami punya tugas di tiga cabang lainnya, sehingga saat ini kami terus menjalankan proses musyawarah untuk menyelesaikan masalah,” sebut Sekjen KOI.
Sementara itu ISTAF melalui suratnya memberikan apresiasi kepada KONI dan KOI yang senantiasa menginformasikan perkembangan terkait konflik internal di antara anggota federasi sepak takraw Indonesia. Sehingga kini dualisme yang ada telah diselesaikan dan tak lagi menghambat sepak takraw Indonesia di tingkat dunia.
“Kami merasa senang permasalahan ini telah diselesaikan dan menyampaikan selamat atas pelantikan Bapak Surianto sebagai Ketua Umum PB PSTI untuk periode 2025-2029,” tulis Muhammad Fariq Abdul Halim selaku Wakil Presiden ISTAF dalam surat balasan kepada KONI.
Menpora Erick sendiri merasa bersyukur atas terselesaikannya dualisme kepengurusan sepak takraw Indonesia. Menurut Menpora, ini merupakan kabar baik yang menggembirakan bagi masyarakat olahraga Indonesia menjelang pembukaan SEA Games di Thailand.
“Satu-persatu masalah dualisme selesai, dan ini menjadi sinyal positif bagi langkah olahraga Indonesia ke depannya. Semoga menjadi pertanda positif juga bagi prestasi kita di SEA Games,” ujar Menpora Erick.
Setelah keberhasilan konsolidasi ini, Menpora mengajak semua pihak terkait untuk berpikir bersama mengenai roadmap cabor-cabor di Indonesia, khususnya yang masuk 21 cabor unggulan. Sebagaimana arahan Presiden Prabowo yang menginginkan olahraga Tanah Air meraih prestasi terbaik, demi meneguhkan Indonesia sebagai bangsa yang besar.
“Terlebih Bapak Presiden telah memberikan perhatiannya pada olahraga kita, mulai dari bonus peraih medali di SEA Games, akan menetapkan 21 cabor unggulan, sampai meminta kita membuat akademi dan pusat pelatihan terbaik di Asia Tenggara,” tutur Menpora Erick.
“Saya tunggu juga konsolidasi dari tiga cabor lainnya untuk selesaikan dualisme, sebelum saya ambil alih masalah ini di Januari,” pungkas Menpora. [red]
Komentar