Seputarpublik.com || JAKARTA -- Fenomena K-Pop yang menjangkau berbagai belahan dunia kembali menjadi bahan pembicaraan. Bukan semata karena popularitas para idola dan lagu-lagunya, tetapi juga karena keberhasilannya berkembang menjadi sebuah ekosistem industri yang mempertemukan musik, kreativitas, teknologi, bisnis, media digital, serta kekuatan komunitas penggemar.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peluncuran buku Bagaimana K-Pop Menguasai Dunia? karya Jungkiu Choi di Kinokuniya Bookstore, Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (27/9).
Buku yang diterbitkan Palmerah Syndicate tersebut mengajak pembaca melihat fenomena K-Pop dari perspektif yang lebih luas. Kesuksesan K-Pop tidak hanya dilihat dari popularitas penyanyi atau lagu, tetapi juga dari proses membangun ekosistem industri kreatif yang mampu membawa produk budaya Korea Selatan ke pasar internasional.
Dari Penggemar Menjadi Pengamat K-Pop
Jungkiu Choi lebih tepat disebut sebagai ahli dan praktisi manajemen. Ia memiliki pengalaman bekerja di sejumlah lembaga dan perusahaan, antara lain McKinsey & Company, Boston Consulting Group, dan Standard Chartered.
Namun, di luar perjalanan profesionalnya, Choi juga dikenal sebagai penggemar sekaligus pengamat budaya K-Pop. Kecintaannya terhadap musik Korea kemudian dituangkan dalam bentuk buku.
Choi menuturkan bahwa pada masa mudanya, seperti banyak remaja pada era 1980-an, ia lebih sering mendengarkan musik dari grup seperti ABBA dan Queen. Sampai kemudian ia mengenal musik Korea dan mulai tertarik lebih jauh.
Dari ketertarikan tersebut, muncul penyanyi favorit, lagu favorit, hingga keterlibatan dalam fandom. Kecintaan itu kemudian diwujudkan melalui aktivitas membeli album dan cendera mata, menonton pertunjukan, serta bergabung dengan komunitas penggemar.
Pengalaman sebagai penggemar tersebut menjadi salah satu sudut pandang Choi dalam melihat bagaimana K-Pop berkembang dari fenomena budaya menjadi industri dengan jangkauan global.
K-Pop dan Kekuatan Ekosistem Industri
Pengalaman profesional Choi turut membawanya melihat perkembangan K-Pop dari berbagai negara.
Setelah bekerja selama bertahun-tahun di dunia konsultasi manajemen, ia kemudian bergabung dengan Standard Chartered dan pernah ditempatkan di Republik Rakyat China. Dari pengalaman tersebut, ia menemukan bahwa penggemar K-Pop telah muncul di berbagai negara dengan bentuk kecintaan yang beragam, mulai dari musik, penyanyi, film hingga komunitas penggemar.
Salah satu pengalamannya terjadi di Inner Mongolia. Choi menemukan bahwa sebagian besar karyawan di tempatnya bekerja merupakan penggemar Super Junior.
Pada suatu kesempatan, mereka bahkan menari dan menyanyikan lagu Sorry, Sorry bersama. Bagi Choi, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa budaya populer dapat menciptakan rasa kebersamaan sekaligus menjadi jembatan lintas negara dan budaya.
Menurut Choi, perkembangan K-Pop tidak hanya ditentukan oleh kreativitas para seniman. Ada pula faktor manajemen yang terintegrasi serta dukungan ekosistem, termasuk kebijakan pemerintah dan berbagai bentuk fasilitas yang menopang perkembangan industri.
K-Pop kemudian berkembang menjadi bagian dari industri budaya yang memiliki dampak ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Besarnya komunitas penggemar di berbagai negara juga menjadi salah satu kekuatan penting dalam mempertahankan ekosistem tersebut.
Belajar dari Korea Selatan
Pandangan mengenai perkembangan K-Pop juga disampaikan Zaini MA, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang memiliki latar pendidikan magister dari Korea Selatan.
Menurut Zaini, salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan industri budaya Korea Selatan adalah perubahan cara pandang terhadap budaya setelah menghadapi krisis ekonomi pada akhir 1990-an.
> “Mereka menyadari sumber daya alam Korsel terbatas, jadi budaya dijadikan bernilai ekonomi dan dapat dijual untuk membuka lapangan kerja sekaligus mendatangkan devisa.”
Zaini menjelaskan, berbagai kebijakan dan fasilitas kemudian diarahkan untuk mendukung perkembangan industri budaya.
Menurutnya, Korea Selatan sebenarnya telah memiliki berbagai kegiatan seni dan festival sejak dekade 1960-an. Namun, perkembangan yang lebih besar terjadi ketika berbagai unsur dalam ekosistem tersebut mulai berjalan secara lebih terintegrasi.
Artinya, pengalaman Korea Selatan dapat dilihat bukan semata-mata sebagai keberhasilan satu jenis musik, melainkan sebagai proses membangun ekosistem budaya yang mempertemukan talenta, industri, teknologi, pasar, komunitas, dan dukungan kelembagaan.
Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, jumlah penduduk yang besar, serta wilayah yang luas. Potensi tersebut tentu memberikan ruang yang besar bagi pengembangan industri kreatif dan ekonomi berbasis budaya.
Choi pun melihat peluang tersebut.
“Saya berharap Indonesia bisa maju dan mencapai keberhasilan melihat potensinya,” kata Choi.
Ia bahkan memiliki pengalaman yang menyenangkan ketika berada di Indonesia. Salah satunya adalah kegemarannya terhadap masakan Padang. Ia bergurau, setiap kali datang ke Jakarta dan kemudian kembali ke Singapura, berat badannya biasanya bertambah.
Namun, di balik candaan tersebut terdapat pesan yang lebih serius mengenai bagaimana potensi Indonesia dapat dikembangkan.
Menurut pandangan yang disampaikan dalam diskusi tersebut, langkah pertama bukan selalu menunggu datangnya bantuan atau fasilitas.
“Semua potensi harus berjalan dulu. Lakukan sesuatu, kreatif, jangan menunggu bantuan, jangan menunggu fasilitas,” demikian pandangan yang disampaikan Zaini.
Menurutnya, apabila ribuan pelaku kreatif bergerak dan menghasilkan karya, akan semakin banyak produk budaya yang muncul. Dari proses tersebut kemudian dapat terbentuk ekosistem yang lebih kondusif.
Dukungan masyarakat dan pemerintah tetap diperlukan, tetapi kreativitas dan inisiatif para pelaku budaya juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut.
Budaya sebagai Kekuatan Ekonomi
Indonesia kini memiliki ruang yang semakin besar untuk membicarakan hubungan antara kebudayaan dan ekonomi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sejumlah kesempatan pada 2026 juga menyampaikan gagasan bahwa kebudayaan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan industri budaya. Kementerian Kebudayaan, misalnya, memasukkan ekonomi budaya sebagai salah satu arah kebijakan serta mendorong pengembangan sektor musik, film, sastra, seni pertunjukan, dan seni rupa.
Dalam konteks itu, kekayaan budaya Indonesia bukan hanya berkaitan dengan pelestarian warisan masa lalu, tetapi juga bagaimana kreativitas masyarakat dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah.
Indonesia memiliki musik tradisional, tari, sastra, film, kuliner, fesyen, kerajinan, seni pertunjukan, hingga berbagai tradisi lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Pertanyaannya kemudian bukan apakah Indonesia memiliki potensi?
Potensinya jelas ada.
Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diolah menjadi karya, diproduksi secara berkelanjutan, dikelola secara profesional, dipasarkan dengan memanfaatkan teknologi digital, dan mampu menjangkau pasar internasional tanpa kehilangan identitas budayanya.
Dari Identitas Budaya Menjadi Produk Global
Pengalaman K-Pop menunjukkan bahwa sebuah produk budaya dapat berkembang ketika kreativitas bertemu dengan manajemen, teknologi, komunitas, pasar, dan ekosistem pendukung.
Indonesia tidak harus meniru K-Pop secara mentah.
Yang lebih penting adalah mempelajari bagaimana Korea Selatan membangun ekosistemnya, kemudian mencari model yang sesuai dengan karakter dan kekayaan budaya Indonesia.
Dengan kekayaan budaya yang begitu besar, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan seni dan budaya sebagai bagian dari ekonomi kreatif sekaligus memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia.
Pada akhirnya, produk budaya bukan hanya mencerminkan keunggulan olah pikir dan olah rasa, tetapi juga berpotensi menjadi sumber nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan memperluas diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Pertanyaannya kini adalah: mampukah Indonesia mengubah kekayaan budaya yang melimpah menjadi ekosistem industri budaya yang terintegrasi, berkelanjutan, dan mampu berbicara di panggung dunia?
* Penulis: Hendry Ch Bangun (FWK)