Inad berharap kegiatan serupa tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga berdampak berkelanjutan, khususnya dalam meningkatkan kapasitas UMKM agar bisa naik kelas.
Ketua pelaksana kegiatan, Alfian, mengatakan acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk kecintaan masyarakat terhadap budaya Betawi di tengah arus modernisasi.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang konsisten digelar,” ujar Alfian.
Sementara itu, sesepuh masyarakat Kota Bambu, H. Muhammad Nuh, mengingatkan pentingnya persatuan dan kekompakan warga Betawi.
“Betawi di mana saja berada harus rukun, damai, dan kompak. Itu modal utama. Kalau kita tidak kompak, kita tidak akan punya wibawa,” katanya.
Ia juga menyinggung organisasi Persatuan Masyarakat Jakarta Mohammad Husni Thamrin (Permata MHT) yang berdiri sejak 22 Juni 1976 untuk menyatukan masyarakat Jakarta, khususnya Betawi.
Di sisi lain, Sekretaris Camat Palmerah, Hermawan, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai acara ini menjadi bentuk nyata upaya menjaga budaya Betawi sebagai identitas Jakarta.
“Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen dalam menghidupkan kembali budaya Betawi serta memperkenalkannya kepada generasi muda,” ujar Hermawan.
Ia berharap ke depan kegiatan ini dapat berkembang menjadi festival budaya yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
Acara ini juga dihadiri Dewan Kota Palmerah Ibu Ririn, Lurah Kota Bambu Selatan Fatihien, Camat Palmerah Febbiandri Suharto, Ketua Umum Guru Besar Gerak Rasa Isman, serta sejumlah tokoh masyarakat dan perwakilan ormas.
Kegiatan ditutup dengan pemberian santunan kepada anak yatim di wilayah setempat.(hel)
Komentar