Seputarpublik.com, JAKARTA — Perayaan Cap Go Meh 2026 bertajuk Little Singkawang Festival yang digelar di TM Seasons City, Jakarta Barat, berlangsung meriah dan dipadati ribuan pengunjung. Festival budaya tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-11 ini menghadirkan berbagai atraksi budaya khas Tionghoa, termasuk pertunjukan Tatung, parade budaya, serta sajian kuliner tradisional yang memikat perhatian masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (8/3/2026) di area Lobby Selatan 1 dan 2 TM Seasons City ini menjadi salah satu agenda budaya yang dinantikan warga Jakarta dan sekitarnya. Cap go meh adalah merupakan sebagai acara penutup rangkaian dari perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.

Sejak pagi hari, pengunjung mulai memadati area festival untuk menyaksikan berbagai rangkaian acara yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB hingga selesai. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya area pertunjukan budaya, stand kuliner, hingga parade komunitas yang turut memeriahkan festival tersebut.

Center Director TM Seasons City, Mualim Wijoyo, mengatakan bahwa perayaan Cap Go Meh tahun ini memiliki makna yang lebih dalam karena berlangsung pada bulan yang sama dengan dua momentum penting, yakni Tahun Baru Imlek dan bulan suci Ramadan.
Menurutnya, momen tersebut menjadi simbol kuat tentang keberagaman dan harmoni yang hidup berdampingan di Indonesia.
“Cap Go Meh tahun ini memiliki makna yang sangat kuat karena hadir dalam bulan yang sama dengan Imlek dan Ramadan. Ini menjadi simbol nyata tentang keberagaman yang hidup harmonis di tengah masyarakat,” ujar Mualim Wijoyo.
Ia menambahkan bahwa selama lebih dari satu dekade penyelenggaraannya, TM Seasons City terus berkomitmen menghadirkan ruang budaya yang inklusif bagi masyarakat sekaligus mendukung pelestarian tradisi.
“Festival ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang temu budaya bagi masyarakat dari berbagai latar belakang,” jelasnya.
Ketua Panitia T.J. Jollyman, S.H. menyampaikan bahwa pihaknya sengaja menghadirkan konsep Little Singkawang untuk membawa atmosfer perayaan Cap Go Meh khas Kota Singkawang, Kalimantan Barat, yang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia.
Salah satu atraksi yang paling menyita perhatian pengunjung adalah Tatung, tradisi budaya yang identik dengan perayaan Cap Go Meh. Atraksi tersebut dipadukan dengan pawai budaya yang melibatkan berbagai komunitas serta pertunjukan seni yang menggambarkan kekayaan budaya Tionghoa.
“Kami menghadirkan kembali atraksi Tatung yang autentik, pawai budaya dari berbagai komunitas, serta kuliner khas Tionghoa yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung,” ujar Jollyman.
Selain menyaksikan pertunjukan budaya, pengunjung juga dapat menikmati berbagai hidangan khas Tionghoa yang disajikan oleh para pelaku usaha kuliner. Kehadiran kuliner tradisional ini semakin menambah semarak suasana festival sekaligus memberikan pengalaman budaya yang lebih lengkap bagi masyarakat.
Jollyman menegaskan bahwa tujuan utama dari penyelenggaraan festival ini bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan pengalaman budaya yang mendalam kepada pengunjung.
“Harapannya masyarakat tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga merasakan langsung atmosfer budaya yang kental dalam perayaan Cap Go Meh,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Panitia Yupiter, S.Kom menambahkan bahwa festival ini juga menjadi wadah kolaborasi antara komunitas budaya, pelaku usaha lokal, serta masyarakat luas.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memperkuat nilai persatuan di tengah masyarakat yang beragam.
“Kami ingin Cap Go Meh di TM Seasons City menjadi ruang kolaborasi budaya. Bukan hanya perayaan seremonial, tetapi juga momentum untuk mempererat kebersamaan,” kata Yupiter.
Dengan berbagai rangkaian kegiatan yang ditampilkan, Little Singkawang Festival Cap Go Meh 2026 kembali menjadi bukti bahwa keberagaman budaya di Indonesia dapat dirayakan bersama dalam suasana yang penuh harmoni.
Festival ini diharapkan terus menjadi tradisi tahunan yang tidak hanya mempererat persatuan masyarakat, tetapi juga memperkaya khazanah budaya nasional di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk. (red)*