Seputarpublik.com || JAKARTA -- Akhirnya, kesampaian juga keinginan saya melakukan perjalanan darat dari Yogyakarta menuju Jakarta dengan bus berlantai ganda atau double decker. Di media sosial seperti Instagram dan TikTok, banyak cerita dan gambar yang menggambarkan kenyamanan perjalanan menggunakan bus mewah. Bahkan, ada bus dengan layanan yang sangat mewah dengan harga tiket yang disebut-sebut bisa melebihi tiket pesawat udara. Hal itu membuat saya semakin penasaran untuk mencoba.
Dalam beberapa perjalanan terakhir, saya lebih sering menggunakan kereta api karena dinilai lebih praktis dibandingkan pesawat udara. Salah satu pertimbangannya adalah jarak Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang cukup jauh dari pusat kota. Saat jam sibuk, perjalanan menggunakan taksi bisa memakan waktu hingga dua jam, sementara kereta bandara memiliki kapasitas terbatas dan kerap penuh.
Berbeda dengan bandara, Stasiun Tugu maupun Stasiun Lempuyangan berada di tengah Kota Yogyakarta. Lokasinya juga relatif dekat dengan sejumlah hotel, bahkan dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Namun, jika berbicara mengenai pengalaman perjalanan, pemandangan yang dapat dinikmati dari kereta api terasa lebih terbatas dan cenderung monoton. Hal itu berbeda dengan perjalanan menggunakan bus bertingkat yang memberikan sudut pandang lebih luas.
Saya memilih kursi tunggal di lantai atas. Dari tempat duduk tersebut, pandangan saya lebih leluasa menikmati pemandangan di sisi kanan dan kiri jalan. Ketika melakukan pemesanan, dari total 33 kursi masih tersedia delapan kursi, khususnya di lantai atas.
Setelah perjalanan dimulai, saya mengetahui bahwa sejumlah penumpang berusia lanjut atau perempuan paruh baya memilih duduk di lantai dasar. Kemungkinan, pilihan itu berkaitan dengan pertimbangan kenyamanan dan kemudahan selama perjalanan.
Saya sengaja memilih keberangkatan pagi agar dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Karena masih awam mengenai layanan bus antarkota, saya menggunakan aplikasi untuk mencari informasi. Setelah membandingkan beberapa pilihan, akhirnya saya memilih bus yang memiliki titik pemberhentian akhir di Pondok Pinang, Jakarta, yang lokasinya relatif dekat dan dapat dilanjutkan menggunakan taksi menuju rumah.
Saya juga memilih titik keberangkatan dari terminal yang lokasinya dekat dengan hotel tempat saya menginap. Ternyata, Terminal Jombor hanya berjarak sekitar lima menit perjalanan menggunakan GoCar dari tempat saya menginap.
Saya melakukan perjalanan bersama teman, Suwardi Thahir, yang juga berada di Yogyakarta untuk menghadiri HUT ke-3 Forum Pimred Multimedia sebagai pengurus pusat. Ketua PWI Sulsel itu tertarik mencoba perjalanan menggunakan bus karena belum pernah menjelajahi Pulau Jawa dengan bus. Ia ingin merasakan perbedaannya dengan perjalanan menggunakan bus dari Makassar menuju Toraja.
Suwardi juga memilih lantai atas, tepatnya kursi di sisi jendela sebelah kanan, agar dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
"Saya ingin menikmati pemandangan Pulau Jawa," ujarnya.
Berangkat dari Terminal Jombor
Pukul 07.06, bus Indorent berangkat dari Terminal Jombor. Saat itu, hanya empat penumpang yang naik dari lokasi tempat menunggu.
Berdasarkan informasi yang saya baca melalui Google, bus tersebut akan menjemput penumpang di sejumlah titik. Perjalanan diawali menuju Giwangan, kemudian Prambanan. Melewati jalur Yogyakarta-Solo, bus akhirnya masuk ke Terminal Ir. Sukarno di Klaten untuk mengambil penumpang sebelum melanjutkan perjalanan melalui jalan tol Polanharjo menuju Kartasura.
Di Terminal Kartasura, kembali naik sejumlah penumpang. Setelah itu, bus masuk ke jalur tol Banyudono, Boyolali, menuju Salatiga.
Bus kemudian keluar dari tol Boyolali untuk mengambil seorang penumpang di sekitar jalan keluar. Jam menunjukkan pukul 09.22.

Sekitar tujuh menit kemudian, bus kembali melambat. Dari jendela, saya melihat seorang perempuan bersama anak perempuan kecil sedang menunggu di sisi jalan.
Bus berhenti. Sopir turun dan menyerahkan sebuah plastik kresek. Setelah itu, ia mencium kepala anak kecil tersebut dan menyalami istrinya.
Di jalan kecil di luar tol terlihat sebuah sepeda motor. Tampaknya, mereka memang menunggu sang kepala keluarga. Begitu melihat bus berhenti, mereka segera menghampiri.
Bagi saya, pemandangan sederhana itu terasa mengharukan. Mungkin, karena kesibukan dan pekerjaan yang mengharuskan sang ayah bepergian ke luar kota setiap hari, pertemuan singkat seperti itu menjadi salah satu cara mereka untuk tetap menjaga kebersamaan keluarga.
Dari jalan tol, bus kembali keluar dan masuk ke Terminal Tingkir, Salatiga. Empat penumpang kembali naik.
Setelah keluar dari terminal, pramugari bus menyampaikan sejumlah informasi kepada penumpang. Disebutkan bahwa sopir hari itu adalah Heru, dengan sopir kedua Loli. Informasi mengenai posisi jendela darurat juga disampaikan, termasuk lokasi di sekitar kursi 5C dan 6A.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi makan siang di Restoran Haji Irwan, KM 389. Bus dijadwalkan berhenti selama 30 menit.
Saat membeli tiket, penumpang diminta memilih menu makan siang. Saya memilih empal gentong dan teh tawar hangat.
Sejak awal keberangkatan, di kursi juga telah tersedia bantal kecil, selimut, dua potong roti Holland Bakery, serta satu botol air mineral. Selain itu, tersedia teh dan kopi yang dapat diseduh menggunakan air dari dispenser. Bagi penumpang yang ingin menikmati makanan ringan, tersedia pula mi instan.
Menikmati Pemandangan dari Lantai Dua
Hingga Kartasura, pemandangan di luar bus masih didominasi suasana perkotaan. Terlihat rumah-rumah, sekolah, kantor kelurahan atau kecamatan, area persawahan, hingga sejumlah pabrik.
Suasana khas Minggu pagi juga terlihat. Banyak warga bersepeda dan berolahraga.
Memasuki wilayah Salatiga, pemandangan hijau mulai terlihat di sepanjang sisi jalan tol. Dari lantai dua bus, pemandangan tersebut terasa lebih leluasa dinikmati dibandingkan ketika menggunakan mobil pribadi.
Perjalanan sebenarnya belum terlalu jauh, tetapi bus kembali keluar untuk mengisi bahan bakar di KM 445.
Semula saya menduga setelah mengisi bahan bakar, bus akan langsung melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Ternyata, perkiraan saya keliru.
Bus kembali keluar melalui pintu tol Banyumanik. Di terminal kecil yang berada di Jalan Setia Budi, kembali naik empat penumpang dengan barang bawaan masing-masing.
Setelah itu, bus masuk kembali melalui pintu tol Srondol, bukan melalui pintu tol sebelumnya.
Sekitar setengah jam kemudian, bus tiba di Rest Area KM 389. Jam menunjukkan sekitar pukul 11.29.
Waktu makan siang yang tersedia hanya sekitar 30 menit. Saya melihat waktu salat Zuhur yang cukup berdekatan dengan waktu istirahat. Karena khawatir tertinggal, saya meminta izin kepada pramugari bus agar tidak ditinggalkan.
Saya kemudian melaksanakan salat secara mandiri setelah azan, sekaligus menjamak salat Zuhur dan Asar. Begitu selesai, saya segera menuju parkiran bus.
Benar saja, saya menjadi penumpang terakhir yang kembali ke bus. Para penumpang yang makan siang sudah kembali duduk di tempat masing-masing.
Pergantian Sopir dan Lalu Lintas Tol
Sekitar pukul 13.58, bus kembali menepi di sekitar KM 220.
Ternyata, terjadi pergantian sopir yang sebelumnya telah membawa bus selama kurang lebih tujuh jam. Pergantian sopir tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan karena faktor kebugaran dan keselamatan pengemudi tentu menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam perjalanan jarak jauh.
Sekitar setengah jam kemudian, bus kembali melambat. Dari jendela, saya melihat kecelakaan yang melibatkan sebuah kendaraan penumpang berukuran sedang dengan perkiraan kapasitas 10 hingga 12 orang.
Bagian depan kendaraan tersebut terlihat mengalami kerusakan dan sedang dipersiapkan untuk dievakuasi.
Arus lalu lintas di jalan tol saat itu cukup padat, terutama dengan banyaknya kendaraan berat yang melaju lebih lambat. Kecelakaan tersebut menyebabkan arus lalu lintas tersendat cukup panjang. Peristiwa itu terjadi menjelang pintu keluar tol Plumbon.
Bus kembali mengisi bahan bakar di KM 101. Antrean kendaraan, termasuk truk dan bus, terlihat cukup panjang.
Tercatat sekitar 23 menit waktu yang dibutuhkan sejak bus masuk ke area SPBU hingga kembali memasuki jalan tol menuju Jakarta. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 15.50.
Sekitar 22 menit kemudian, bus melewati pintu tol Cikampek Utama dan tak lama kemudian bertemu dengan arus kendaraan dari arah Tol Cipularang.
Minggu sore membuat arus lalu lintas relatif padat. Apalagi, Senin, 20 Juli, merupakan hari pertama sebagian siswa sekolah swasta kembali masuk setelah libur panjang sejak awal Juli.
Jika sebelumnya kecepatan rata-rata bus berada di kisaran 70-80 kilometer per jam, kecuali di lokasi kecelakaan atau pekerjaan perbaikan jalan, setelah itu kecepatan menurun menjadi sekitar 50-60 kilometer per jam meski tersedia empat lajur.
Menyusuri Cikarang hingga Jakarta
Sesuai rencana perjalanan yang saya catat, bus mulai menurunkan penumpang di Cikarang setelah keluar melalui pintu tol Cikarang Barat.
Sejumlah penumpang muda, yang kemungkinan merupakan pekerja di kawasan industri tersebut, turun dengan membawa tas masing-masing.
Bus kemudian kembali memasuki jalan tol dan keluar di Bekasi Timur.
Saya baru mengetahui bahwa sejumlah agen bus berada di sekitar jalan menuju pintu tol. Banyak bus luar kota juga menurunkan penumpang di kawasan tersebut.
Bus berhenti sekitar tiga hingga empat menit sehingga tidak sampai menimbulkan kemacetan berarti.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Terminal Pulo Gebang yang terhubung dengan akses tol Cikunir.
Terminal tersebut memberikan kesan rapi dan luas. Bus dapat langsung masuk dari akses tol menuju terminal.
Selain penumpang yang turun, terlihat pula banyak calon penumpang yang bersiap melakukan perjalanan. Belasan bus tampak berjejer di jalur keberangkatan.
Sebagai terminal terpadu, Pulo Gebang juga memberikan kemudahan bagi penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi lain, seperti Transjakarta, angkutan umum, maupun menuju Stasiun KRL Cakung yang relatif mudah dijangkau.
Sebelum memasuki Terminal Kampung Rambutan, bus kembali keluar melalui pintu tol Jatiasih. Ternyata, ada satu penumpang yang turun.
Bus kemudian berputar di sekitar akses jalan tol dan melanjutkan perjalanan sebelum keluar melalui pintu Bambu Apus.
Perjalanan semakin mendekati titik akhir.
Tepat pukul 18.00, bus masuk ke Terminal Kampung Rambutan. Seperti Pulo Gebang, terminal ini juga merupakan terminal terpadu dengan beberapa pilihan moda transportasi yang memudahkan masyarakat melanjutkan perjalanan menuju berbagai wilayah Jakarta.
Terdapat sejumlah rute Transjakarta yang dapat digunakan dengan pembayaran menggunakan kartu elektronik.
Hanya sekitar tujuh menit kemudian, bus kembali masuk ke jalan tol menuju terminal akhir.
Karena tidak ada penumpang yang turun di Terminal Lebak Bulus, penumpang yang tersisa kemudian turun di Terminal Pondok Pinang, terminal bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).
Tepat pukul 18.24, bus tiba di Terminal Pondok Pinang. Waktu tersebut bahkan satu menit lebih cepat dibandingkan jadwal yang tertera pada tiket, yakni pukul 18.25.
Alhamdulillah.
Perjalanan ini terasa mengesankan. Saya segera memesan taksi menuju rumah. Dari Terminal Pondok Pinang, perjalanan menuju rumah hanya sekitar dua menit setelah masuk pintu tol JORR.
Dompet Tertinggal dan Pelayanan yang Berkesan
Kisah perjalanan menggunakan bus Indorent sebenarnya berakhir di sini.
Namun, setibanya di rumah, saya baru menyadari bahwa dompet yang berisi vitamin dan obat-obatan yang saya simpan di dalam ransel ternyata tertinggal.
Kemungkinan, dompet tersebut terjatuh ketika saya memasukkan oleh-oleh Bakpia 25 dan jenang Kudus yang dibeli di rest area. Charger baterai juga saya masukkan ke dalam tas yang sama ketika mencopotnya menjelang akhir perjalanan.
Saya kemudian menghubungi pramugari yang sebelumnya memberikan nomor WhatsApp kepada saya menjelang keberangkatan untuk memastikan kehadiran di Terminal Jombor.
"Saya menyebutkan nomor kursi yang saya tempati.
Ternyata, dompet tersebut sudah ditemukan dan disimpan oleh pramugari. Namun, pengiriman melalui layanan Gosend cukup sulit karena bus berada di pool Nanggewer, Bogor, sementara saya tinggal di kawasan Bintaro.
Entah bagaimana caranya, pramugari tersebut kemudian menjanjikan akan menitipkan dompet saya kepada temannya.
Saya kemudian diberi nomor kontak untuk berkomunikasi lebih lanjut, khususnya terkait perjalanan bus, sehingga saya dapat mengetahui kapan harus menunggu.
Senin sore, tepat pukul 18.36, bus Indorent tiba di Terminal Pondok Pinang. Setelah melayani penumpang yang turun, Pramugari T, teman dari Pramugari R, ternyata sudah menyiapkan barang saya yang tertinggal dan menyerahkannya kepada saya yang menunggu di tepi jalan.
"Alhamdulillah, untuk kedua kalinya.
Perjalanan ini bukan hanya memberikan pengalaman baru menikmati perjalanan darat dari Yogyakarta menuju Jakarta dengan bus double decker. Saya juga mendapatkan pengalaman mengenai kenyamanan perjalanan, menikmati pemandangan Pulau Jawa dari lantai dua bus, sekaligus merasakan pelayanan yang menurut pengalaman pribadi saya cukup berkesan, terutama ketika barang yang tertinggal berhasil ditemukan dan dikembalikan.
Sebuah perjalanan yang meninggalkan cerita tersendiri.(Red)*
("Catatan Perjalanan Darat Hendry Ch Bangun")