Tidak sekadar membongkar tungku, kegiatan ini menyimpan makna filosofis yang dalam. Segala sisa bahan, kayu bakar, hingga peralatan masak dari pawon tersebut dianggap memiliki nilai sakral karena telah digunakan dalam tradisi Adang Bethak. Nantinya, seluruh hasil pembongkaran akan dilarung ke Pantai Parangkusumo dalam upacara adat khusus, sebagai simbol penyucian sekaligus wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi ini bukan hanya ritual kebudayaan, melainkan juga warisan spiritual yang mengajarkan tentang kebersamaan, kesabaran, dan kesadaran manusia akan hubungan dengan Sang Pencipta. Karena itulah, prosesi bongkar pawon disebut sebagai salah satu inti dari rangkaian Adang Bethak Tahun Dal.
Menurut KPA. Dani Nur Adiningrat, selaku Pengageng Sasana Wilapa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kegiatan ini adalah bentuk nyata dawuh dalem.
“Prosesi bongkar pawon ini merupakan dawuh dalem SISKS. Pakoe Boewono XIII, agar adat dan budaya Karaton tidak hanya dijaga, tetapi juga diamalkan sebagai warisan luhur yang harus diteruskan kepada generasi penerus,” ungkapnya.
Lebih lanjut, KPA. Dani menambahkan bahwa Karaton akan selalu menjaga agar tradisi semacam ini tetap berjalan.
“Adat istiadat Karaton Surakarta adalah napas kehidupan budaya Jawa. Dengan adanya dawuh dalem SISKS. Pakoe Boewono XIII, kita semua, khususnya abdidalem, diberi amanah untuk meneguhkan tekad melestarikan tradisi ini sampai kapan pun,” tegasnya.
Dengan demikian, prosesi bongkar pawon bukan sekadar rangkaian tambahan, tetapi menjadi bukti nyata bahwa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap teguh menjaga adat dan budaya sebagai jati diri bangsa, serta menjadikannya pusaka hidup bagi anak cucu di masa depan.[*/red]
Komentar