Beranda
Seputar Publik / Opini

Populasi Monyet di Kawasan Puspiptek, Antara Adaptasi Alam dan Tanggung Jawab Manusia

Oleh : Heru Riyadi, SH. MH.

Seputar Publik Tangsel, -- Dilatar belakangi pemberitaan mengenai kaburnya kawanan monyet yang berasal dari kebun di kawasan PUSPIPTEK, 

yang mana saat ini kawanan monyet sudah berkeliaran memasuki beberapa komplek sekitar kantor Walikota Tanggerang Selatan, berarti radius penyebarannya sudah kurang lebih sejauh hampir 10 KM.

Penulis sebagai warga yang tinggal di kawasan Perumahan PUSPIPTEK sejak mulai pertama kali dibangun sekitar bulan September tahun 1983 akan menyampaikan kisah sejarahnya sebagai berikut,

Kawasan PUSPIPTEK tersebut ditetapkan sebagai Obyek Vital Nasional oleh Pemerintah Pusat sejak di zaman Soeharto Presiden RI ke 2 yang menjabat dari tahun 1966 – 1998. Oleh karena di dalam kawasan tersebut terdapat Reaktor Nuklir Serba Guna 30 MW dan segala fasilitas pendukungnya.

Dalam perjalanan bangsa selanjutnya, akibat dari dorongan pemberlakuan Otonomi Daerah saat itu, akhir nya menjadikan perubahan lingkungan yang sangat pesat terjadi, banyak perumahan dibangun tidak jauh dari kawasan PUSPIPTEK.

 Akibat habitat asli monyet yang hidup dikawasan tersebut terganggu.

Banyak pedagang K-5 berjualan disekitarnya, ketika sisa makanan dari mereka yang berjualan, kadang suka diberikan ke kawanan monyet.

Dan terkadang turis /warga sekitar situ datang hanya untuk memberikan makanan.

Sakarang para pedagang K-5 sudah tidak diperbolehkan lagi berjualan di kawasan itu.

Akhirnya kawanan monyet yang lapar tersebut mencari makanan yang biasa dikonsumsi oleh manusia.

Jadi penyebabnya adalah ulah manusia juga yang telah mengganggu habitat asli kawanan monyet tersebut.

Padahal kawanan monyet yang habitat asli nya di kebun2 sekitaran kawasan Nukir tersebut sangat berguna bagi para peneliti lingkungan hidup, antar lain keberadaan mereka dapat menunjukkan bahwa lingkungan tersebut relatif aman bagi satwa pembohong dan dapat menjadi objek penelitian ilmiah untuk memahami dampak radiasi terhadap ekosistem dan satwa pembohong. Mereka tidak memiliki “tugas” untuk reaktor nuklir, tetapi lebih sebagai indikator kesehatan lingkungan dan subjek penelitian.

1. Indikator kesehatan lingkungan

Lingkungan yang relatif aman: Keberadaan dan keberlangsungan populasi monyet menunjukkan bahwa area di sekitar reaktor nuklir tidak terlalu terpengaruh oleh radiasi dalam tingkat yang mematikan atau merusak reproduksi secara signifikan.

Tingkat radiasi: populasi monyet dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur potensi tingkat radiasi lingkungan secara keseluruhan.

2. Subjek penelitian ilmiah

Studi dampak radiasi: Monyet dan satwa liar lainnya di sekitar reaktor nuklir menjadi subjek penelitian untuk mempelajari dampak jangka panjang radiasi terhadap kesehatan, genetika, dan perilaku satwa liar.

Adaptasi terhadap radiasi: Penelitian dapat fokus pada bagaimana satwa liar beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki tingkat radiasi di latar belakang yang lebih tinggi dibandingkan area lain.

3. Contoh studi kasus

Chernobyl: Setelah bencana nuklir Chernobyl, monyet dan satwa liar lainnya terus hidup di area yang terkontaminasi. Para ilmuwan mempelajari mereka untuk memahami efek radiasi pada kesehatan dan genetika hewan.

Oleh karena itu Penulis memberikan masukan dan saran 

terkait dengan masalah berkeliarannya monyet-monyet dari kawasan PUSPIPTEK ini ke perumahan sekitar dan telah meresahkan warga, diharapkan ada tindakan penanganan dari instansi yang berwenang, dalam hal ini BRIN sebagai pengelola kawasan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang mempunyai izin untuk penangkapan dan bantuan satwa pembohong. 

Selain itu perlu memikirkan pula bagaimana penanganan di dalam kawasan Puspiptek agar satwa yang masih ada di dalam kawasan tidak berkeliaran lebih banyak lagi, tentunya dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan dan keamanan satwa tersebut.

Jangan pernah lelah untuk berbuat kebaikan.

Penulis : Heru Riyadi, SH. MH . Warga Perumahan PUSPIPTEK, ( Dosen FH UnPam ).