Seputarpublik.com || JAKARTA – Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta menggelar Masa Ta’aruf Mahasiswa Baru (MTMB) bagi calon mahasiswa tahun akademik 2026/2027 di Graha Alawiyah, Kampus 2 UIA, Jalan Raya Jatiwaringin No. 12, Pondok Gede, Bekasi, pada 15–17 September 2026.
MTMB 2026 mengangkat tema “Membangun Mahasiswa UIA yang Berakhlakul Karimah, Berpikir Kritis dan Adaptif terhadap Transformasi Digital” dengan tagline “Berilmu, Beriman, Berdampak bagi Bangsa.”
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi UIA dalam menyambut mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan lingkungan akademik, kelembagaan dan budaya kampus. Selain itu, mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai nilai-nilai keislaman serta tantangan kehidupan perguruan tinggi di tengah perkembangan teknologi digital.
Mahasiswa Didorong Menjadi Agen Perubahan
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIA, Dr. Misbah Fikrianto, M.Si., M.M., M.Pd.
Dalam sambutannya, Dr. Misbah menekankan posisi mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga diharapkan mampu menjadi bagian dari perubahan positif di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Karena itu, mahasiswa UIA didorong untuk memiliki keberanian berpikir kritis, berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akhlakul karimah.
«“Mahasiswa adalah agent of change. Karena itu, mahasiswa harus mampu menjadi penggerak perubahan yang positif, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat,” ujar Dr. Misbah.»
Ia juga mengingatkan mahasiswa baru agar menjadikan masa perkuliahan sebagai kesempatan untuk mengembangkan kompetensi, membangun jejaring, meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Sambutan tersebut menjadi pengantar bagi mahasiswa baru untuk memahami kehidupan kemahasiswaan di UIA sekaligus peran mereka dalam membangun budaya akademik yang positif dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta bangsa.
Selanjutnya, Rektor UIA, Prof. Dr. H. Masduki Ahmad, SH., MM., memberikan sambutan sekaligus secara resmi membuka kegiatan MTMB 2026.
Dalam pembukaannya, Rektor UIA menekankan bahwa masa ta’aruf bukan sekadar kegiatan pengenalan kampus, melainkan menjadi tahapan awal dalam membangun karakter, mental, etika dan kesiapan mahasiswa menjalani proses pendidikan di perguruan tinggi.
Mengenal Sejarah dan Perjuangan Keas-Syafi’iyahan
Materi pertama disampaikan Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (YAPTA), Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH., LLM., MBA., dengan materi “Sejarah dan Perjuangan Keas-Syafi’iyahan.”
Dalam pembekalannya, Dailami menegaskan komitmen UIA sebagai perguruan tinggi yang memadukan ilmu dan agama. Prinsip tersebut merupakan bagian dari amanah yang diwariskan sang kakek, ulama KH Abdullah Syafi’i, pendiri UIA.
«“Perpaduan antara ilmu dan agama merupakan jati diri UIA yang harus terus dijaga,” ujar Dailami, yang juga Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jakarta.»
Menurutnya, mahasiswa UIA tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga dituntut memiliki karakter, akhlak serta kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi digital, lanjutnya, juga perlu dihadapi dengan kemampuan berpikir kritis dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
Etika Kepemimpinan bagi Mahasiswa Muslim Modern
Materi berikutnya menghadirkan Dr. Hj. Syifa Fauzia, M.Art., yang membawakan materi “Etika Kepemimpinan dan Tata Kelola Diri Mahasiswa Muslim Modern.”
Materi tersebut memberikan penguatan kepada mahasiswa baru mengenai pentingnya kepemimpinan yang dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri.
Mahasiswa diarahkan untuk membangun kedisiplinan, tanggung jawab dan integritas, sekaligus mengembangkan kemampuan mengambil keputusan secara bijak.
Kepemimpinan mahasiswa tidak hanya dipahami sebagai kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga mencakup kemampuan mengelola waktu, menjaga komitmen, membangun komunikasi dan bertanggung jawab terhadap pilihan selama menjalani kehidupan akademik.
Akhlakul Karimah dan Budaya Kesantunan
Penguatan karakter juga diberikan melalui materi “Penguatan Akhlakul Karimah dan Budaya Kesantunan dalam Meningkatkan Mutu UIA” yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Masduki Ahmad, SH., MM.
Materi tersebut menempatkan akhlak dan kesantunan sebagai bagian penting dalam membangun kualitas sivitas akademika. Kompetensi akademik diharapkan dapat berjalan beriringan dengan karakter dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.
Mahasiswa baru juga diarahkan menjadikan kesantunan sebagai bagian dari budaya kehidupan kampus, baik dalam berkomunikasi dengan dosen, tenaga kependidikan, sesama mahasiswa maupun masyarakat.
Membangun Kampus yang Aman dan Inklusif
Selanjutnya, mahasiswa mendapatkan materi “SAFE & INCLUSIVE CAMPUS: Bersama Mewujudkan UIA yang Aman, Peduli, dan Ramah untuk Semua” yang disampaikan oleh Ken Heriliani Sulis, M.Pd.
Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, nyaman, peduli dan menghargai keberagaman.
Mahasiswa baru diajak membangun kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan kampus yang mendukung rasa aman dan kenyamanan seluruh warga kampus.
Konsep safe and inclusive campus juga menekankan pentingnya kepedulian, saling menghormati dan membangun budaya akademik yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang secara positif.
AI, Pengetahuan dan Integritas
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mahasiswa baru juga mendapatkan pembekalan melalui materi “AI, Knowledge, and Integrity: Menjadi Mahasiswa Muslim Cerdas di Era Kecerdasan Buatan” yang disampaikan oleh Dr. Badrah Uyuni, MA.
Materi tersebut membahas relevansi pemanfaatan AI dengan tantangan mahasiswa saat ini. Teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran, pencarian informasi, pengolahan data dan pengembangan pengetahuan.
Namun, pemanfaatan AI juga membutuhkan integritas dan tanggung jawab. Mahasiswa perlu memahami batas antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran dengan ketergantungan yang dapat mengurangi proses berpikir kritis dan orisinalitas akademik.
Karena itu, mahasiswa UIA didorong menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis dan beretika, dengan tetap menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai landasan dalam pemanfaatan teknologi.
1.429 Mahasiswa Baru Ikuti MTMB
Pada tahun akademik 2026/2027, jumlah calon mahasiswa baru UIA mencapai 1.429 orang. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penerimaan mahasiswa baru pada tahun sebelumnya.
Peningkatan jumlah mahasiswa tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi UIA untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan akademik dan pembinaan mahasiswa.
MTMB 2026 pun tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan pengenalan kampus, tetapi juga menjadi bagian awal dari proses pembentukan karakter dan kesiapan mahasiswa memasuki dunia perguruan tinggi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan UIA, termasuk para wakil rektor, dekan dan unsur pimpinan lainnya. Kehadiran jajaran pimpinan menunjukkan pentingnya MTMB sebagai bagian dari proses awal mahasiswa mengenal kehidupan akademik dan kelembagaan di UIA.
Saat ini, UIA memiliki enam fakultas dengan 23 program studi, yakni Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), serta Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES).
Berilmu, Beriman dan Berdampak bagi Bangsa
Melalui MTMB 2026, UIA berharap mahasiswa baru mampu menjalani proses pendidikan dengan keseimbangan antara penguasaan ilmu, keimanan, akhlak, kemampuan berpikir kritis dan kesiapan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Tema “Membangun Mahasiswa UIA yang Berakhlakul Karimah, Berpikir Kritis dan Adaptif terhadap Transformasi Digital” sekaligus menjadi penegasan arah pembinaan mahasiswa UIA untuk membangun generasi dengan kompetensi akademik, karakter, kemampuan kepemimpinan, kesadaran sosial dan literasi digital.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa UIA diharapkan mampu menggunakan ilmu dan teknologi secara bijak serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Berilmu, Beriman, Berdampak bagi Bangsa.